China Siapkan Larangan Ekspor Teknologi Produksi Peralatan Tenaga Surya



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China mengusulkan pengendalian ekspor terhadap 12 teknologi yang digunakan untuk memproduksi peralatan tenaga surya. Kebijakan ini diambil dengan alasan keamanan nasional.

Reuters melaporkan, Minggu (18/10/2026), Kementerian Perdagangan China, dalam pernyataan yang dirilis Jumat (16/10/2026), mengusulkan penambahan teknologi fotovoltaik ke dalam daftar pengendalian ekspor.

Kementerian Perdagangan China menyatakan, pengawasan yang lebih ketat diperlukan karena teknologi tenaga surya kini semakin banyak digunakan di sektor-sektor sensitif, seperti kedirgantaraan dan pertahanan nasional.


Menurut laporan Reuters di April, para pejabat China telah mengadakan pembicaraan awal dengan sejumlah produsen mengenai potensi pembatasan teknologi pembuatan panel surya canggih. Langkah ini dapat mengancam rencana perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS), seperti Tesla, untuk memperluas kapasitas produksi mereka di AS.

Baca Juga: Melunak, Donald Trump Batalkan Sanksi dan Tarif Dagang yang Terkait Rusia

Reuters juga melaporkan, Beijing telah membatasi ekspor teknologi manufaktur tenaga surya ke India. Para analis menilai, China berupaya mempertahankan dominasinya di saat India tengah berupaya membangun industri manufaktur dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan pada China.

Pemerintah China menyatakan, pembatasan ekspor ini bertujuan untuk mencegah risiko teknologi yang tidak terkendali atau penyebaran yang tidak semestinya, sekaligus tetap menjaga pertukaran dan kerjasama internasional yang wajar di bidang sains dan teknologi.

Para eksportir kini diwajibkan untuk mendaftarkan transfer teknologi tertentu ke luar negeri sampai katalog pengendalian ekspor diperbarui secara resmi. Konsultasi publik mengenai usulan ini akan berakhir pada tanggal 15 November.

Langkah ini merupakan bagian dari revisi yang lebih luas atas kebijakan yang berjalan, yang juga mencakup bidang akal imitasi (AI) dan bioteknologi. Sekadar informasi, China berencana melarang ekspor sejumlah teknologi.

Baca Juga: China Dukung IMF Perketat Pengawasan Risiko Fiskal Negara Maju

Pelarangan ini juga meliputi teknologi yang digunakan untuk memproduksi wafer tipis, sel surya berbasis perovskite dan sel surya tandem, serta teknologi produksi polisilikon skala besar dengan metode fluidized-bed.

Perovskite merupakan teknologi baru yang menawarkan potensi peningkatan efisiensi konversi energi. Sel surya tandem menggabungkan lapisan perovskite dan silikon untuk menangkap spektrum cahaya matahari yang lebih luas.

Teknologi fluidized-bed untuk memproduksi polisilikon, bahan dasar utama dalam pembuatan panel surya, diketahui lebih murah dan lebih hemat energi dibandingkan dengan proses Siemens yang saat ini umum digunakan.

Selain itu, China juga akan membatasi ekspor teknologi manufaktur sel surya canggih, termasuk teknologi TOPCon, HJT, dan XBC. Kendati begitu, China tidak melarang sepenuhnya ekspor teknologi tersebut.

Baca Juga: Dua Kapal Tanker Minyak Terbakar Usai Hantam Ranjau di Selat Hormuz

Data bea cukai China yang dirilis Minggu (18/10/2026) menunjukkan ekspor peralatan tenaga surya China turun 6,4% secara tahunan per September. Sebagai produsen peralatan tenaga surya terbesar di dunia, China mengekspor 1,21 juta metrik ton sel dan panel surya pada September.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan September tahun sebelumnya, namun meningkat dari 840.000 ton di Agustus 2026. Sepanjang 2026 berjalan hingga September, China mengekspor 9,37 juta ton peralatan tenaga surya, turun 9,5%.

Nilai ekspor produk tenaga surya bulan September mencapai $3,34 miliar, naik 19,4%. Berdasarkan jumlah unit, China mengirimkan 11,3% lebih banyak sel dan panel, yakni sebanyak 1,44 miliar unit.