KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasokan chip untuk smartphone dan laptop belum sepenuhnya normal. Tekanan ini terjadi pada komponen memori, akibat meningkatnya kebutuhan industri artificial intelligence (AI) dan data center. Produsen chip kini mengalokasikan kapasitas lebih besar untuk kebutuhan server dan AI. Kondisi tersebut membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen, seperti smartphone dan laptop menjadi lebih terbatas. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, tekanan paling kuat terjadi pada dynamic random-access memory (DRAM). Sementara itu, pasokan NAND dan solid-state drive (SSD) juga mulai ketat pada sejumlah segmen. Baca Juga: Industri Semikonduktor Diperkuat, Akses Desain Chip Kini Kian Terbuka “Masalahnya bukan semata-mata kekurangan chip secara absolut, tetapi perebutan kapasitas antara kebutuhan AI, data center, dan perangkat konsumen,” ujar Heru kepada KONTAN, Senin (10/8/2026). Heru menilai produsen chip cenderung mengalihkan kapasitas ke produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Produk tersebut antara lain high bandwidth memory (HBM), DRAM server, dan SSD enterprise. Akibatnya, ruang produksi untuk memori konsumen seperti LPDDR dan PC DRAM menjadi lebih terbatas. Kondisi ini membuat kekurangan DRAM berpotensi berlangsung secara struktural karena tambahan kapasitas belum mampu mengejar permintaan. Tekanan tersebut juga tercermin pada harga komponen. Heru memproyeksikan sejumlah segmen NAND dapat mengalami kenaikan harga sekitar 120%-170% pada semester II-2026. Sementara itu, DRAM konsumen juga masih mengalami tekanan kenaikan harga. Baca Juga: Ini Strategi Pelita Teknologi Global (CHIP) Dongkrak Kinerja Kendati demikian, kenaikan harga komponen tidak otomatis diteruskan sepenuhnya kepada konsumen. Produsen masih dapat menekan dampaknya melalui efisiensi maupun pengurangan margin. Perangkat dengan kapasitas RAM dan storage lebih besar, diperkirakan menjadi produk yang lebih terdampak. Segmen entry-level juga relatif sensitif karena porsi biaya komponen terhadap harga jual lebih besar dan marginnya cenderung tipis. “Jika tekanan memori berlangsung hingga akhir tahun, kenaikan harga ritel sekitar beberapa persen cukup mungkin terjadi pada sejumlah model,” ujar Heru. Dengan demikian, konsumen berpotensi menghadapi dua skenario. Harga perangkat dapat naik dengan spesifikasi yang sama atau harga dipertahankan dengan peningkatan RAM dan storage yang lebih terbatas. Heru menilai tekanan tersebut masih dapat berlanjut hingga akhir 2026. Jika tambahan kapasitas produksi belum mampu mengimbangi permintaan dari AI dan data center.
Chip Makin Mahal, Persaingan Vendor Smartphone dan Laptop Makin Ketat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasokan chip untuk smartphone dan laptop belum sepenuhnya normal. Tekanan ini terjadi pada komponen memori, akibat meningkatnya kebutuhan industri artificial intelligence (AI) dan data center. Produsen chip kini mengalokasikan kapasitas lebih besar untuk kebutuhan server dan AI. Kondisi tersebut membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen, seperti smartphone dan laptop menjadi lebih terbatas. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, tekanan paling kuat terjadi pada dynamic random-access memory (DRAM). Sementara itu, pasokan NAND dan solid-state drive (SSD) juga mulai ketat pada sejumlah segmen. Baca Juga: Industri Semikonduktor Diperkuat, Akses Desain Chip Kini Kian Terbuka “Masalahnya bukan semata-mata kekurangan chip secara absolut, tetapi perebutan kapasitas antara kebutuhan AI, data center, dan perangkat konsumen,” ujar Heru kepada KONTAN, Senin (10/8/2026). Heru menilai produsen chip cenderung mengalihkan kapasitas ke produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Produk tersebut antara lain high bandwidth memory (HBM), DRAM server, dan SSD enterprise. Akibatnya, ruang produksi untuk memori konsumen seperti LPDDR dan PC DRAM menjadi lebih terbatas. Kondisi ini membuat kekurangan DRAM berpotensi berlangsung secara struktural karena tambahan kapasitas belum mampu mengejar permintaan. Tekanan tersebut juga tercermin pada harga komponen. Heru memproyeksikan sejumlah segmen NAND dapat mengalami kenaikan harga sekitar 120%-170% pada semester II-2026. Sementara itu, DRAM konsumen juga masih mengalami tekanan kenaikan harga. Baca Juga: Ini Strategi Pelita Teknologi Global (CHIP) Dongkrak Kinerja Kendati demikian, kenaikan harga komponen tidak otomatis diteruskan sepenuhnya kepada konsumen. Produsen masih dapat menekan dampaknya melalui efisiensi maupun pengurangan margin. Perangkat dengan kapasitas RAM dan storage lebih besar, diperkirakan menjadi produk yang lebih terdampak. Segmen entry-level juga relatif sensitif karena porsi biaya komponen terhadap harga jual lebih besar dan marginnya cenderung tipis. “Jika tekanan memori berlangsung hingga akhir tahun, kenaikan harga ritel sekitar beberapa persen cukup mungkin terjadi pada sejumlah model,” ujar Heru. Dengan demikian, konsumen berpotensi menghadapi dua skenario. Harga perangkat dapat naik dengan spesifikasi yang sama atau harga dipertahankan dengan peningkatan RAM dan storage yang lebih terbatas. Heru menilai tekanan tersebut masih dapat berlanjut hingga akhir 2026. Jika tambahan kapasitas produksi belum mampu mengimbangi permintaan dari AI dan data center.