Chip Memori, Raksasa Gadget Ini Akan Dongrak Harga Produk



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Apple Inc. berencana menaikkan harga sejumlah produknya untuk mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan yang terus meningkat.

CEO Apple, Tim Cook, menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan Wall Street Journal, di tengah tekanan global pada rantai pasok semikonduktor akibat meningkatnya permintaan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini menandai tantangan baru bagi industri teknologi global, yang kini menghadapi persaingan ketat untuk mendapatkan pasokan komponen penting di tengah lonjakan permintaan pusat data AI.

Lonjakan Permintaan AI Picu Krisis Pasokan Chip


Permintaan yang melonjak dari sektor kecerdasan buatan telah mendorong kebutuhan besar terhadap chip memori berkecepatan tinggi, terutama untuk server AI. Akibatnya, pasokan komponen untuk perangkat konsumen menjadi semakin terbatas dan harga mengalami kenaikan tajam.

Sejumlah kelompok industri yang mewakili produsen otomotif, ritel, dan perusahaan elektronik bahkan telah memperingatkan bahwa lonjakan permintaan chip memori dapat menyebabkan kenaikan harga signifikan pada barang konsumsi di Amerika Serikat serta mengganggu rantai pasok global.

Baca Juga: Permintaan Tetap Kuat, OPEC Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan minyak Global

Apple: Kenaikan Harga Tidak Terhindarkan

Tim Cook menegaskan bahwa tekanan biaya saat ini membuat kenaikan harga menjadi sulit dihindari.

"Sayangnya, kenaikan harga tidak dapat dihindari. Kami melakukan yang terbaik untuk mengurangi dampak kenaikan besar yang dibebankan kepada kami, dan kami telah berusaha melindungi pelanggan dari kenaikan tersebut, tetapi situasinya telah menjadi tidak berkelanjutan," ujarnya.

Meski demikian, Apple belum mengumumkan kapan kenaikan harga akan diberlakukan maupun produk mana yang akan terdampak.

Tekanan Biaya di Pasar DRAM dan Storage

Menurut Cook, salah satu tekanan terbesar berasal dari pasar DRAM, di mana sebagian besar pasokan dialihkan untuk kebutuhan AI server yang membutuhkan high-bandwidth memory. Hal ini menyebabkan ketersediaan untuk perangkat konsumen semakin terbatas.

"Pasokan lebih sedikit pada saat konsumen menginginkan perangkat, dan produsen memori meneruskan kenaikan harga yang sangat besar. Kami benar-benar membutuhkan harga dan pasokan memori kembali ke tingkat yang wajar untuk produk konsumen. Itulah intinya," katanya.

Strategi Apple: Gunakan Cadangan Kas, Bukan Bangun Pabrik Sendiri

Apple disebut tengah mempertimbangkan penggunaan cadangan kas perusahaan untuk membantu menjaga pasokan chip memori tetap stabil. Namun, perusahaan tidak berencana membangun pabrik memori dan penyimpanan sendiri.

Cook menegaskan bahwa Apple lebih memilih berperan dalam solusi rantai pasok ketimbang masuk langsung ke bisnis manufaktur semikonduktor.

"Kami bersedia menggunakan neraca keuangan kami untuk membantu menjadi bagian dari solusi. Jelas, kapasitas yang lebih besar sangat dibutuhkan," terangnya.

Baca Juga: Siap-Siap, Kenaikan Suku Bunga Akan Terjadi di Negara-Negara G10

Rencana Produk: iPhone Lipat dan Seri Baru

Di tengah tekanan biaya, Apple juga dikabarkan tetap melanjutkan pengembangan produk baru. Perusahaan disebut sedang bersiap meluncurkan iPhone lipat pertama pada September, bersamaan dengan seri iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max.

Langkah ini menunjukkan bahwa Apple tetap agresif dalam inovasi meski menghadapi tekanan biaya produksi yang meningkat.

Isu Geopolitik dan Rantai Pasok Global

Pasar memori global juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. China memiliki sejumlah produsen memori dan penyimpanan domestik, namun perusahaan AS umumnya memerlukan lisensi khusus untuk bekerja sama di bawah aturan keamanan nasional.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pelonggaran pembatasan, Cook menilai bahwa semua opsi perlu dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas pasokan global.

"Semua hal perlu dipertimbangkan... saya pikir kita harus melihat seluruh sumber pasokan." katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News