CIMB Niaga Auto Finance Terbitkan Sukuk Senilai Rp 900 Miliar Hingga Mei 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) telah menerbitkan instrumen pendanaan syariah berupa sukuk senilai Rp 900 miliar hingga Mei 2026.

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance Ristiawan Suherman mengatakan penerbitan tersebut sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendanaan perusahaan. 

"Adapun dana hasil penerbitan sukuk tersebut digunakan untuk mendukung pertumbuhan portofolio pembiayaan syariah," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).


Baca Juga: AAJI akan Beri Usulan kepada OJK Terkait Penyesuaian Ketentuan Unitlink

Lebih lanjut, Ristiawan menyampaikan perusahaan saat ini tengah dalam proses Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance, dengan target dana sebesar Rp 5 triliun. Dia menerangkan pelaksanaan penerbitan obligasi akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain kebutuhan pendanaan perusahaan, kondisi pasar obligasi, serta tingkat suku bunga yang berlaku. 

"Selain itu, mempertimbangkan profil jatuh tempo liabilitas perusahaan, serta efisiensi biaya pendanaan dibandingkan dengan alternatif sumber dana lainnya," tuturnya.

Melalui strategi pendanaan yang terdiversifikasi, Ristiawan menyebut CNAF memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menentukan instrumen pendanaan yang paling kompetitif dan sesuai dengan kondisi pasar. 

Dia menjelaskan strategi itu juga mendukung upaya CNAF dalam menjaga struktur pendanaan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan.

Sementara itu, Ristiawan menerangkan secara umum, tren kupon obligasi pada 2026 menunjukkan kecenderungan meningkat, seiring dengan pergerakan suku bunga acuan dan yield obligasi di pasar. Dia bilang sejumlah penerbit obligasi korporasi juga menawarkan kupon yang lebih tinggi, jika dibandingkan periode sebelumnya guna menjaga daya tarik di mata investor.

"Bagi CNAF, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan waktu penerbitan maupun struktur tenor obligasi," ucapnya.

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa dari Unitlink Tumbuh 4,1% Jadi Rp 17,17 Triliun di Kuartal I-2026

Ristiawan menyampaikan CNAF akan terus mencermati perkembangan pasar agar dapat memperoleh pendanaan dengan biaya yang kompetitif dan efisien. Dia juga bilang struktur pendanaan CNAF tidak hanya bergantung pada obligasi. CNAF memiliki fleksibilitas untuk mengoptimalkan komposisi sumber pendanaan melalui berbagai instrumen, termasuk pinjaman perbankan, joint financing, serta pendanaan dari pasar modal. 

"Dengan strategi pendanaan yang terdiversifikasi tersebut, dampak kenaikan kupon obligasi terhadap cost of fund dan kinerja perusahaan dapat dikelola dengan baik," katanya.

Ristiawan juga mengatakan dukungan pendanaan yang kuat dari induk usaha maupun para kreditur memberikan ruang bagi CNAF untuk lebih selektif dalam menentukan waktu dan struktur penerbitan obligasi. Dengan demikian, dia bilang perusahaan dapat mengoptimalkan peluang memperoleh sumber pendanaan yang paling efisien, serta menjaga cost of fund tetap kompetitif.

Sebagai informasi, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 12,93 triliun per Mei 2026. Nilai tersebut naik 19,3%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,84 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News