KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk bersama 16 bank lainnya resmi berpartisipasi dalam pembiayaan hijau untuk PT Vale Indonesia Tbk, salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, CIMB Niaga dan konsorsium perbankan menyediakan fasilitas
syndicated sustainability-linked loan (SSL) senilai US$ 750 juta bagi Vale Indonesia.
Baca Juga: CIMB Group Bidik Peluang Akuisisi dan Ekspansi Bisnis di Indonesia Head of Corporate, Investment Banking Coverage & Loan Syndication CIMB Niaga Miranty Supardi mengatakan, partisipasi perseroan dalam sindikasi pembiayaan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan, termasuk di sektor pertambangan yang berperan penting dalam transisi energi global. "Keterlibatan CIMB Niaga dalam fasilitas sustainability-linked loan ini merupakan wujud dukungan kami terhadap keberlanjutan di industri ekstraktif," ujar Miranty dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026). Menurut Miranty, pembiayaan tersebut juga sejalan dengan strategi CIMB Niaga untuk mendiversifikasi portofolio pembiayaan, khususnya pada sektor mineral kritis (critical minerals) yang menjadi komponen penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi bersih.
Baca Juga: Bank Raya (AGRO) Andalkan CASA Hadapi Dampak Kenaikan BI Rate ke 5,5% Ia berharap dukungan pembiayaan kepada Vale Indonesia dapat memberikan kontribusi positif terhadap percepatan transisi energi sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global. Miranty menilai Vale Indonesia telah menerapkan praktik operasional berkelanjutan yang baik, termasuk pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk menghasilkan produk nikel beremisi rendah.
Selain itu, Vale Indonesia juga memiliki rencana pengembangan energi terbarukan dan program elektrifikasi guna menurunkan intensitas emisi karbon di masa mendatang.
Baca Juga: BI Rate Naik, Bank Kencangkan CASA lewat Layanan Payroll "Kami memahami bagaimana Vale Indonesia telah menerapkan best practice dalam operasionalnya, termasuk penggunaan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air sehingga mampu menghasilkan produk nikel dengan emisi rendah, serta memiliki rencana pengembangan energi terbarukan dan elektrifikasi untuk menurunkan intensitas emisi di masa depan," jelas Miranty. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News