KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan syariah masih menghadapi sejumlah tantangan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,07%, turun dari 43,42% pada 2025. Sementara indeks inklusi keuangan syariah turun menjadi 13,24% dari 13,41%. Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara mengatakan, tantangan perbankan syariah bukan hanya memperkenalkan produk kepada masyarakat, tetapi juga membuatnya lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. “Bagaimana mendorong masyarakat untuk memahami manfaatnya dan menggunakannya dalam kebutuhan finansial sehari-hari,” ujar Pandji kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Baca Juga: Perluas Layanan Perbankan Syariah di Bogor,CIMB Niaga Syariah Resmikan Digital Branch Menurut Pandji, ada tiga hambatan yang masih ditemui. Pertama, istilah dan nama produk syariah masih belum familiar bagi masyarakat. Masyarakat lebih terbiasa dengan istilah kredit, deposito atau pinjaman dibandingkan akad seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah dan wakalah. Kedua, masih ada persepsi bahwa produk syariah lebih mahal dan kurang fleksibel dibandingkan produk konvensional. “Padahal, saat ini pricing dan fitur produk syariah semakin kompetitif dan terus disesuaikan dengan kebutuhan nasabah,” katanya. Ketiga, sebagian masyarakat masih melihat perbankan syariah hanya dari sisi religius. Menurut Pandji, nilai yang ditawarkan lebih luas, seperti transparansi akad, prinsip kemitraan dan transaksi berbasis aktivitas ekonomi riil. Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Perkuat Digitalisasi Keuangan Syariah di UNIDA Gontor Sementara itu, CIMB Niaga Syariah mencatat laba bersih Rp 679,25 miliar pada semester I 2026. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil tumbuh 10,03% secara tahunan menjadi Rp 1,03 triliun. Total dana yang dihimpun juga tumbuh 5,78% menjadi Rp 50,94 triliun, sementara dana simpanan wadiah naik 26,21% menjadi Rp 13,04 triliun. Pandji mengatakan hingga akhir 2026, CIMB Niaga Syariah akan memperkuat dana murah dan dana transaksional. Pembiayaan akan diarahkan secara selektif pada segmen konsumer, ritel dan UMKM yang memiliki prospek pertumbuhan baik.
CIMB Niaga Syariah Sebut Tiga Tantangan Perbankan Syariah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan syariah masih menghadapi sejumlah tantangan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,07%, turun dari 43,42% pada 2025. Sementara indeks inklusi keuangan syariah turun menjadi 13,24% dari 13,41%. Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara mengatakan, tantangan perbankan syariah bukan hanya memperkenalkan produk kepada masyarakat, tetapi juga membuatnya lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. “Bagaimana mendorong masyarakat untuk memahami manfaatnya dan menggunakannya dalam kebutuhan finansial sehari-hari,” ujar Pandji kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Baca Juga: Perluas Layanan Perbankan Syariah di Bogor,CIMB Niaga Syariah Resmikan Digital Branch Menurut Pandji, ada tiga hambatan yang masih ditemui. Pertama, istilah dan nama produk syariah masih belum familiar bagi masyarakat. Masyarakat lebih terbiasa dengan istilah kredit, deposito atau pinjaman dibandingkan akad seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah dan wakalah. Kedua, masih ada persepsi bahwa produk syariah lebih mahal dan kurang fleksibel dibandingkan produk konvensional. “Padahal, saat ini pricing dan fitur produk syariah semakin kompetitif dan terus disesuaikan dengan kebutuhan nasabah,” katanya. Ketiga, sebagian masyarakat masih melihat perbankan syariah hanya dari sisi religius. Menurut Pandji, nilai yang ditawarkan lebih luas, seperti transparansi akad, prinsip kemitraan dan transaksi berbasis aktivitas ekonomi riil. Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Perkuat Digitalisasi Keuangan Syariah di UNIDA Gontor Sementara itu, CIMB Niaga Syariah mencatat laba bersih Rp 679,25 miliar pada semester I 2026. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil tumbuh 10,03% secara tahunan menjadi Rp 1,03 triliun. Total dana yang dihimpun juga tumbuh 5,78% menjadi Rp 50,94 triliun, sementara dana simpanan wadiah naik 26,21% menjadi Rp 13,04 triliun. Pandji mengatakan hingga akhir 2026, CIMB Niaga Syariah akan memperkuat dana murah dan dana transaksional. Pembiayaan akan diarahkan secara selektif pada segmen konsumer, ritel dan UMKM yang memiliki prospek pertumbuhan baik.