KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (
BNGA) terus mematangkan proses
spin off unit usaha syariahnya menjadi entitas mandiri. Saat ini, CIMB Niaga Syariah telah mengantongi izin prinsip dan tengah menunggu izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan izin prinsip spin off telah diterima pada pertengahan Januari lalu. Selanjutnya, bank akan fokus menyelesaikan proses perizinan agar CIMB Niaga Syariah dapat beroperasi penuh sebagai bank syariah independen. “Kami izin prinsipnya sudah terima di pertengahan Januari kemarin, sekarang sedang proses mendapatkan izin usaha dari OJK,” ujar Pandji kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: OJK Proyeksikan Premi Asuransi Jiwa Tumbuh Stabil hingga Moderat, Ini Pendorongnya Pandji memperkirakan, CIMB Niaga Syariah akan mulai beroperasi sebagai entitas mandiri pada akhir semester I atau awal semester II tahun ini. “Secara beroperasi di akhir semester satu atau awal semester dua, buka April. Mudah-mudahan tidak mundur, karena prosesnya memang cukup kompleks,” katanya. Terkait isu yang beredar mengenai rencana penawaran umum perdana saham (IPO) CIMB Niaga Syariah pasca spin off, Pandji menegaskan bahwa hal tersebut bukan fokus perusahaan saat ini. Ia bahkan mengaku baru mendengar kabar tersebut. “Soal CIMB Niaga Syariah mau IPO, saya malah benar-benar baru dengar hari ini,” ujarnya. Meski demikian, Pandji menyebut CIMB Niaga Syariah terbuka terhadap peluang memiliki mitra strategis di masa depan, sepanjang memiliki kecocokan visi dan misi. Namun, wacana tersebut belum menjadi agenda utama perseroan dalam waktu dekat. “Yang selama ini saya tahu, CIMB Niaga Syariah akan senang dan terbuka kalau suatu hari punya partner yang cocok. Tapi itu bukan fokus di hari-hari ini, karena kami masih fokus ke spin off, apalagi soal IPO,” tegas dia. Sebagai informasi, CIMB Niaga Syariah dikabarkan bakal mencatatkan saham paling cepat pada 2028 nanti, setelah bank berhasil membangun rekam jejak sebagai entitas terpisah melalui spin off pada pertengahan 2026 mendatang.
Baca Juga: Saham Big Banks Mulai Menguat Pasca Tekanan MSCI, BBCA Terangkat Rencana Buyback Menurut sumber
Reuters, unit syariah CIMB Niaga tersebut dapat bernilai sekitar US$ 1 miliar pada saat potensi pencatatan saham di Indonesia pada tahun 2028, tergantung pada kinerja dan kondisi pasar. Lebih lanjut Pandji menjelaskan, target CIMB Niaga Syariah di 2030, porsi korporasi dan komersial hanya tinggal 20%. Selama ini, portofolio CIMB Niaga Syariah masih didominasi segmen korporasi dan komersial sekitar 45%, sementara sisanya 55%–60% berasal dari segmen ritel dan usaha kecil menengah (SME). "Ke depan, komposisi ini akan berubah signifikan. Fokus utama kami akan beralih ke segmen ritel, SME, dan komunitas islami," katanya. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan misi menjangkau kelompok masyarakat “loyalis”, yakni nasabah yang secara ideologis berkomitmen menggunakan layanan perbankan syariah sepenuhnya, segmen yang selama ini belum tergarap optimal oleh CIMB Niaga. CIMB Niaga Syariah juga tengah menyiapkan konsep cabang digital syariah yang modern namun tetap menonjolkan nilai-nilai islami. Cabang ini akan menjadi standar baru bagi seluruh jaringan setelah spin-off. “Desain cabangnya akan lebih tenang, hangat, dan berkarakter islami dengan elemen kayu, kaligrafi, dan suasana yang nyaman, tapi tetap modern,” kata Pandji. Dari sisi layanan, seluruh cabang konvensional CIMB Niaga nantinya juga bisa melayani transaksi syariah. Hal ini dimungkinkan karena CIMB Niaga Syariah akan menjadi bank pertama di Indonesia yang memanfaatkan penuh kebijakan OJK terkait full leveraging cabang induk. Artinya, nasabah di daerah yang belum memiliki cabang syariah tetap dapat melakukan transaksi syariah di cabang konvensional, sementara pembukuannya akan dilakukan di cabang syariah terdekat.
Baca Juga: OJK: 79,86% Perusahaan Asuransi Sudah Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum 2026 Pasca-spin-off, CIMB Niaga Syariah akan menghadirkan aplikasi digital khusus berbasis Octo yang terpisah dari sistem konvensional. Aplikasi ini akan menampilkan produk-produk syariah seperti pembiayaan rumah, pembiayaan kendaraan, wakaf produktif, hingga goal-based savings untuk keperluan umrah dan pendidikan. Selain itu, CIMB Niaga Syariah juga akan memperkuat portofolio pembiayaan hijau (
green financing) di sektor energi terbarukan, pertanian, dan UMKM berkelanjutan. “Kami mulai dengan porsi sekitar 10% dari total pembiayaan, dan dalam lima tahun ke depan ditargetkan naik di atas 25%. Prinsipnya, bukan sekadar green label, tapi benar-benar berdampak,” tegas Pandji. CIMB Niaga Syariah juga menargetkan asetnya dapat tumbuh dua kali lipat dari posisi saat ini yang sekitar Rp 70 triliun menjadi lebih dari Rp 100 triliun pada 2030. Pertumbuhan ini akan ditopang oleh ekspansi di segmen ritel dan SME, inovasi digital, serta sinergi dengan CIMB Group Malaysia yang selama ini telah memiliki pengalaman sukses melalui CIMB Islamic. “CIMB Group sangat mendukung langkah ini. Mereka bahkan mendorong agar spin-off dipercepat. Kita akan belajar banyak dari keberhasilan CIMB Islamic di Malaysia,” ungkap Pandji. Lebih jauh, Pandji menegaskan CIMB Niaga Syariah ingin tampil sebagai bank syariah yang relevan bagi masyarakat modern, bukan sekadar lembaga keuangan dengan label halal.
Baca Juga: DBS Indonesia Naikkan Pendanaan Channeling ke Kredivo Jadi Rp 3 Triliun “Kami ingin menunjukkan bahwa bank syariah itu efisien, digital, ramah, dan solutif. Mudah-mudahan keberadaannya membawa keberkahan, tidak hanya bagi nasabah, tapi juga untuk perekonomian umat secara keseluruhan,” tutup Pandji.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News