KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (
CMRY) mencetak kinerja positif pada tahun 2025. Volatilitas harga bahan baku diproyeksi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi CMRY pada tahun 2026. Yodhita Maureen Romindo, Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan bahwa manajemen CMRY memberikan panduan untuk pertumbuhan pendapatan yang lebih moderat pada 2026 sebesar 10% sampai 15% dan Gross Profit Margin (GPM) sebesar 40% sampai 44%. Perusahaan menegaskan kembali ambisinya selama lima tahun untuk menggandakan pendapatannya melalui
Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 15%, dengan 5% sampai 10% berasal dari
Same-Store Sales Growth (SSSG) atau Pertumbuhan Penjualan Toko yang Sama, 5% sampai 10% dari ekspansi
general trade (GT) atau miss cimory (MCM), dan sekitar 5% dari inovasi produk. Sementara ekspor dan saluran ritel baru dianggap sebagai pengungkit peningkatan.
Baca Juga: Adu Laba Produsen Susu Cimory (CMRY) dan Ultra Jaya (ULTJ), Mana yang Lebih Manis? “Untuk tahun 2026, manajemen tetap berhati-hati terhadap tantangan makro, khususnya pada volatilitas harga susu bubuk utuh dan pelemahan nilai tukar rupiah,” ucap Yodhita dalam risetnya pada 16 Maret 2026. Bernie Chew, Analis UBS Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa Cimory telah mulai memasok program MBG pemerintah mulai kuartal I – 2026 menggunakan kapasitas pengolahan susu yang ada. Meskipun margin MBG lebih rendah daripada penjualan komersial, volumenya tetap kecil dan tidak dianggap sebagai pendorong keuntungan. “Yang terpenting, manajemen tidak melihat adanya kanibalisasi permintaan; sebaliknya, MBG meningkatkan konsumsi susu melalui peningkatan kesadaran dan kebiasaan, dengan dampak positif pada permintaan ritel,” jelas Bernie dalam risetnya pada 2 Maret 2026. Bernie mengatakan, kenaikan harga susu segar domestik yang didorong oleh permintaan MBG juga dipandang positif. Karena hal itu mendorong investasi petani dan mendukung tujuan jangka panjang untuk meningkatkan swasembada susu Indonesia. Dalam hal persaingan ritel, perluasan saluran ritel baru (termasuk format koperasi) dapat menguntungkan saluran
general trade (GT) Cimory dengan menambah titik gerai baru. “Tidak ada pengaturan harga khusus yang terkait dengan saluran yang terkait dengan pemerintah,” imbuhnya.
Baca Juga: Cimory (CMRY) Targetkan Perluasan Jaringan Distribusi, Begini Proyeksi Kinerjanya Hansen Christian Seng, Analis Sucor Sekuritas sedikit memangkas proyeksi laba bersih CMRY untuk tahun 2026-2027 menjadi Rp 2,2 triliun (naik 9,5% yoy) dan Rp 2,5 triliun (naik 12,9% yoy), yang mencerminkan tekanan margin jangka pendek pada tahun 2026 sebelum normalisasi mulai tahun 2027 seiring dengan peningkatan leverage operasional dan bauran penjualan. “Kami memperkirakan belanja modal (capex) tahun 2026 sebesar Rp 843 miliar, terutama untuk perluasan kapasitas makanan konsumen,” ucap Hansen dalam risetnya pada 4 Maret 2026. Sementara itu, Hansen mempertahankan proyeksi pendapatan CMRY sebesar Rp 12,4 triliun (naik 15,6% yoy) pada tahun 2026 dan Rp 14,1 triliun (naik 14,3% yoy) pada tahun 2027, didukung oleh pertumbuhan saluran yang efisien dan ekspor yang lebih kuat. “Kami mempertahankan CMRY sebagai salah satu pilihan utama kami, didukung oleh pertumbuhan pendapatan dua digit yang konsisten meskipun latar belakang konsumsi yang lebih lemah dan percepatan berkelanjutan dalam perluasan distribusi,” tambahnya. Seperti diketahui, CMRY mengantongi laba bersih sebesar Rp 2,03 triliun, tumbuh 33,80% secara yoy pada tahun 2025. Pada saat yang sama, penjualan bersih CMRY mengalami kenaikan sebesar 18,82% yoy menjadi Rp 10,72 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Hansen, Bernie dan Yodhita merekomendasikan
buy saham CMRY dengan target harga masing – masing Rp 6.500 per saham, Rp 6.800 per saham dan Rp 6.200 per saham.
Baca Juga: Pemulihan Segmen Susu Topang KInerja Cimory (CMRY), Cek Rekomendasi Sahamnya Adapun katalis positif CMRY adalah pertumbuhan produk susu dan makanan kemasan yang lebih kuat dari perkiraan. Sementara risiko yang perlu dicermati antara lain kenaikan harga bahan baku, peningkatan belanja iklan dan promosi, serta persaingan yang semakin ketat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News