Cipta Perdana (PART) Tak Cuma Bisnis Komponen Otomotif, Valuasi Diproyeksi Rp 193



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) berpotensi mencatatkan pertumbuhan laba signifikan dalam dua tahun ke depan seiring strategi diversifikasi bisnis dari produsen komponen otomotif menjadi pemain di sektor mesin pertanian dan pengolahan limbah organik.

Analis Semesta Indovest Sekuritas, Nicholas Dharmawan dalam riset Jumat (6/11/2026) menilai ekspansi ke lini bisnis baru tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi PART sekaligus memperbaiki struktur pendapatan dan profitabilitas perseroan.

Nicholas memulai cakupan saham PART dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 193 per saham. Harga saham PART hingga pukul 14.39 WIB pada Jumat (6/11/2026) berada di level Rp 96 per saham, naik 4,4%. 


Baca Juga: Dibuka! Investasi Sukuk Tabungan ST017 Dapat Kupon 7,05%, Modal Minimal Rp 1 Juta

Menurut Nicholas, valuasi PART saat ini masih relatif murah dibandingkan prospek pertumbuhan laba ke depan. Saham PART diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba alias price to earnings (PER) sebesar 8,4 kali berdasarkan laba 2025 dan price to book value (PBV) 1,37 kali.

Bahkan, berdasarkan proyeksi laba 2027, PER PART diperkirakan menyusut menjadi hanya 4,6 kali. Semesta Indovest menilai valuasi tersebut belum mencerminkan potensi pertumbuhan kinerja perseroan.

Selama ini, PART dikenal sebagai produsen komponen otomotif dengan kontribusi mencapai 80,2% terhadap total pendapatan pada 2025.

Namun, perusahaan ini mulai memperluas bisnis ke pengolahan limbah organik dan mesin pertanian. Sejumlah produk baru yang dikembangkan antara lain seri Digester Somya, Homura Stove, Paddy Machine, Dolomit Sprayer, dan Otoclimber.

Nicholas memperkirakan kontribusi lini produk baru tersebut akan meningkat dari belum memberikan pendapatan pada 2025 menjadi 19,2% dari total pendapatan pada 2027.

Pertumbuhan ini ditopang oleh semakin berkembangnya pipeline kontrak dari sektor swasta maupun pemerintah.

Produk Digester diproyeksikan menghasilkan pendapatan Rp 52 miliar pada 2027. Sementara itu, produk Paddy Machine diperkirakan menyumbang Rp 31 miliar pada tahun yang sama, yang merupakan tahun penuh pertama kontribusi pendapatannya.

Baca Juga: Kemenkeu Optimistis ST017 Diburu Investor, Ini Alasannya

Nicholas menilai diversifikasi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan PART terhadap industri otomotif. Dalam proyeksi jangka panjangnya, Semesta Indovest bahkan menggunakan asumsi volume industri otomotif yang konservatif untuk mengantisipasi risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Selain pertumbuhan pendapatan dari produk baru, perbaikan bauran produk dan efisiensi produksi diperkirakan menjadi pendorong utama peningkatan profitabilitas PART.

Semesta Indovest memproyeksikan laba bersih perseroan meningkat dari Rp 30,2 miliar pada 2025 menjadi Rp 54,3 miliar pada 2027. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 80% dalam dua tahun.

Secara lebih panjang, laba bersih PART diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk alias compound annual growth rate (CAGR) sebesar 28,9% hingga 2028.

Dari sisi margin, margin laba kotor (gross margin) diproyeksikan meningkat dari 19,2% pada 2025 menjadi 23,8% pada 2027.

Perbaikan tersebut didorong oleh beberapa faktor. Pertama, tidak berulangnya biaya eksplorasi produk, terutama pengembangan cetakan atau mould, yang telah dibebankan pada 2025.

Kedua, peningkatan kontribusi produk baru yang memiliki potensi memperkaya bauran produk perseroan. Ketiga, peningkatan efisiensi produksi setelah PART menyelesaikan belanja modal mesin sekitar Rp 70 miliar pada 2025.

Meski demikian, Semesta Indovest juga memperhitungkan adanya pendapatan tidak berulang dari program produksi wadah makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 62 miliar pada 2025. Pendapatan tersebut tidak dimasukkan kembali dalam proyeksi 2026 dan seterusnya.

Baca Juga: BEI dan PHEI Luncurkan Indonesia ESG Bond Index

Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan ke depan lebih mencerminkan pengembangan bisnis inti dan kontribusi lini produk baru, bukan pengulangan pendapatan yang bersifat nonrecurring.

Dari sisi neraca, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi kapasitas diperkirakan membuat utang berbunga PART mencapai puncaknya sebesar Rp 145 miliar pada 2026.

Namun, seiring meningkatnya arus kas operasional, utang berbunga tersebut diproyeksikan turun menjadi Rp 125 miliar pada 2028.

Kondisi ini diperkirakan memperbaiki struktur permodalan perseroan. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) diproyeksikan turun dari 0,67 kali pada 2025 menjadi 0,39 kali pada 2028.

Sementara itu, PART diperkirakan tetap mempertahankan rasio pembagian dividen sebesar 20%.

Dalam valuasinya, Semesta Indovest menggunakan metode discounted cash flow (DCF) dengan periode proyeksi 2027–2031.

Asumsi yang digunakan mencakup weighted average cost of capital (WACC) sebesar 10,5% dan pertumbuhan terminal (terminal growth) sebesar 2,5%.

Berdasarkan metode tersebut, Nicholas menetapkan target harga Rp 193 per saham. 

Meski prospek pertumbuhan dinilai menjanjikan, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor.

Risiko tersebut meliputi perlambatan ekonomi domestik yang dapat menekan permintaan komponen otomotif, tantangan eksekusi dalam meningkatkan skala bisnis produk baru, serta ketergantungan terhadap kontrak pemerintah.

Baca Juga: Simak Prospek Sukuk Tabungan ST017 yang Ditawarkan Mulai Hari Ini (6/11)

Selain itu, rencana penerbitan saham baru melalui rights issue berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan pemegang saham. Tekanan margin juga dapat muncul ketika aset dalam pembangunan (construction in progress) mulai beroperasi dan dibebani depresiasi.

Dengan prospek diversifikasi, peningkatan efisiensi, serta proyeksi penurunan utang setelah ekspansi, Semesta Indovest melihat PART memiliki peluang untuk membangun sumber pertumbuhan baru di luar industri komponen otomotif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News