KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cipta Selera Murni Tbk (
CSMI) tengah menyiapkan kelanjutan bisnis restoran di tengah pergerakan harga saham perseroan yang melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah upaya perusahaan dalam mengembangkan merek restoran baru. Namun, di tengah rencana pengembangan bisnis tersebut, Radino Miharjo Direktur Utama CSMI dalam keterbukaan informasi di BEI pada Jumat (4/9/2026) menegaskan bahwa ekspansi masih dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi bisnis dan kinerja outlet yang sudah berjalan. Saat ini, CSMI menjalankan kegiatan usaha restoran cepat saji dan perdagangan dengan mengandalkan brand NWS Chicken. Perusahaan kini memiliki empat outlet yang tersebar di wilayah Jawa dan Sumatera.
Baca Juga: IHSG Menguat 2,97% Dalam Sepekan, Cek Prediksinya untuk Pekan Depan Radino mengatakan, pembukaan outlet baru sepanjang 2026 masih dalam tahap pertimbangan. Keputusan ekspansi akan mempertimbangkan kinerja outlet eksisting, kondisi pasar, serta kelayakan lokasi. Dengan demikian, fokus perusahaan yang dulunya mengelola gerai waralaba Texas Fried Chicken saat ini lebih diarahkan pada efisiensi operasional bisnis yang telah berjalan sekaligus memetakan potensi layanan dan pengembangan bisnis baru. Selain itu, CSMI masih menghadapi proses pendaftaran merek di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Perusahaan ini menyebut terdapat kendala kesamaan nama merek dengan pihak lain yang masih harus diselesaikan agar proses pendaftaran dapat dilanjutkan. Langkah perseroan dalam melanjutkan pengembangan bisnis tersebut berlangsung ketika harga saham CSMI bergerak naik signifikan di pasar. Saat ini saham CSMI tengah disuspensi BEI lantaran pergerakan harga saham yang naik tiba-tiba. Terakhir saham CSMI diperdagangkan 27 Agustus 2026 di harga Rp 183 per saham. Dalam sebulan saham CSMI telah naik 140,79%. Saham CSMI pun resmi disuspensi BEI sejak 28 Agustus 2026. Menanggapi permintaan penjelasan BEI terkait pergerakan saham, manajemen CSMI menyatakan tidak terdapat informasi material yang belum disampaikan kepada publik yang dapat menjelaskan pergerakan tersebut. Perusahaan juga menegaskan tidak terdapat perolehan kontrak baru yang material maupun perkara hukum yang belum diungkapkan kepada publik.
Baca Juga: Disokong Sinyal Dovish The Fed, Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan Menurut manajemen, fluktuasi harga saham CSMI merupakan dinamika permintaan dan penawaran di pasar sekunder. Pergerakan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh sentimen ekonomi makro dan kondisi pasar modal secara umum. Di sisi fundamental, perusahaan ini memang mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 30 Juni 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan, efektivitas strategi pemasaran, serta perbaikan daya beli konsumen. Meski pendapatan tumbuh, kondisi keuangan perusahaan ini masih menghadapi tekanan. CSMI tetap membukukan rugi usaha dan rugi bersih pada semester I-2026. Radino menjelaskan, tekanan tersebut terutama berasal dari tingginya beban operasional, penyesuaian biaya bahan dan jasa, serta beban biaya tetap (
fixed cost). Kondisi tersebut membuat perusahaan ini masih perlu menjaga efisiensi dan mengevaluasi secara hati-hati rencana ekspansinya.
Pada semester I-2026, CSMI membukukan kerugian sebesar Rp 1,02 miliar, naik dari rugi bersih pada periode sama tahun 2025 sebesar Rp 27,94 juta.
Baca Juga: Utang Jangka Pendek Terpangkas 30,9%, Intip Prospek Saham TBS Energi Utama (TOBA) Sementara pendapatan CSMI di semester I 2026 menurun 43,92% menjadi Rp 815,83 juta. Akibatnya laba kotor perusahaan ini turun 45,97% menjadi Rp 484,97 juta. Adapun rugi usaha CSMI naik menjadi Rp 1,02 miliar dari Rp 27,94 juta. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News