Ciptadana Sekuritas Pangkas Target IHSG pada Akhir Tahun 2023, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia dinilai masih dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif, yang membuat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersendat.

Dalam riset tertanggal 6 September 2023, Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Arief Budiman menilai, adanya ketidakpastian pasar yang lebih tinggi telah memperburuk risiko ekspektasi investor terhadap valuasi emiten dan akan mengurangi partisipasi investor di pasar saham

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), yakni Federal Reserve (The Fed) dan situasi politik dalam negeri memberatkan psikologis investor, yang pada akhirnya membebani kinerja pasar saham.


Hal ini tercermin dalam nilai perdagangan pasar sejauh ini yang masih minim. Arif menyebut, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar saham dalam negeri saat ini masih berada di kisaran Rp 10,3 triliun, turun signifikan 30% dari rata-rata nilai transaksi harian pada 2022 yang mencapai Rp 14,7 triliun.

Baca Juga: IHSG Turun 0,39% ke Level 6.968,510 pada Sesi Pertama Perdagangan Kamis (7/9)

Dus, Ciptadana Sekuritas menurunkan target IHSG hingga akhir tahun 2023 dari semula 7.500 menjadi 7.200. Target ini mencerminkan price to earnings ratio (PER) sebesar 12,6 kali dari sebelumnya 13,2 kali. Target ini menyiratkan potensi upside sebesar 5% dari posisi IHSG pada awal tahun dan 4% dari posisi IHSG pada akhir Agustus 2023.

Saat ini IHSG diperdagangkan pada PER 11,8 kali, berada di batas bawah kisaran valuasi indeks di Asia Tenggara yaitu 10,8 kali sampai 14,9 kali.

Arief meyakini, sepanjang September 2023 ini IHSG akan berada dalam mode pemulihan. Arief melihat The Fed akan melakukan jeda kenaikan suku bunga pada pertemuan 20 September mendatang.  Ditambah, pemerintah China meluncurkan stimulus untuk meningkatkan perekonomiannya. Katalis juga datang dari masih kuatnya momentum perekonomian Indonesia.

Namun, kenaikan IHSG dalam jangka pendek kemungkinan terbatas, di tengah ketidakpastian politik dan masih lemahnya volume perdagangan pasar.

Perkembangan politik baru-baru ini, yakni resminya Muhaimin Iskandar menjadi bakal calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan diyakini akan membawa lebih banyak ketidakpastian. Koalisi ini dinilai akan mengubah konfigurasi aliansi politik tanah air.

Baca Juga: Asing Net Sell Saat IHSG Menguat, Cek Saham yang Banyak Dijual pada Rabu (6/9)

Menggandeng ketua partai politik yang berafiliasi dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dinilai dapat meningkatkan peluang Anies dalam kontestasi pemilu presiden 2024.

Investor akan mencermati calon presiden mana yang akan mendapat suara dukungan dari Presiden Jokowi, meskipun sejumlah jajak pendapat memperkirakan adanya persaingan ketat antara Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi