KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) mengatakan, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu teknologi yang akan berperan penting dalam mendorong transformasi layanan asuransi kesehatan ke depannya. Direktur Ciputra Life Listianawati Sugiyanto menganggap, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan klaim kesehatan. "Khususnya, dalam menganalisis data dalam volume besar secara lebih cepat, konsisten, dan berbasis pola," ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Buka Peluang Gaet Investor Luar Listianawati mengatakan kemampuan itu memungkinkan perusahaan melakukan identifikasi dini terhadap klaim yang memerlukan penelaahan lebih lanjut. Dengan demikian, proses pengelolaan risiko menjadi lebih efektif. Ke depannya, Listianawati bilang, AI berpotensi membantu mendeteksi berbagai pola yang mengindikasikan ketidakwajaran, seperti klaim ganda, ketidaksesuaian antara diagnosis dengan tindakan medis yang diajukan, pola tagihan yang tidak lazim, hingga frekuensi klaim yang berbeda secara signifikan dibandingkan karakteristik peserta maupun fasilitas layanan kesehatan sejenis. "Analisis tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk melakukan investigasi lebih lanjut terhadap potensi
fraud," ungkapnya. Lebih lanjut, Listianawati bilang, teknologi AI juga berfungsi sebagai
decision support atau
early warning system yang membantu proses analisis. Dia menjelaskan setiap indikasi yang dihasilkan tetap akan melalui proses verifikasi oleh tim klaim, tenaga medis, maupun pihak terkait lainnya sebelum keputusan diambil. "Pendekatan itu memastikan proses klaim tetap objektif, akurat, mengedepankan prinsip kehati-hatian, serta tetap melindungi hak-hak nasabah," tuturnya. Listianawati mengungkapkan, saat ini pemanfaatan AI di Ciputra Life masih tahap awal dan merupakan bagian dari roadmap transformasi digital perusahaan yang dijalankan secara bertahap. Oleh karena itu, dia mengatakan pihaknya belum menetapkan target penurunan fraud secara spesifik. Sebab, fokus utama Ciputra Life adalah memastikan setiap implementasi memberikan hasil yang terukur dan benar-benar memberikan nilai tambah bagi operasional maupun layanan kepada nasabah.
Baca Juga: Asuransi Umum Sebut Prospek Asuransi Kendaraan Listrik Masih Cerah ke Depannya Bagi Ciputra Life, Listianawati mengatakan AI tidak hanya dapat berpotensi penurunan fraud, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas proses bisnis secara menyeluruh, mempercepat proses analisis klaim, meningkatkan konsistensi identifikasi risiko, memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, serta menciptakan efisiensi operasional. "Pada akhirnya, seluruh pengembangan tersebut bertujuan menghadirkan layanan yang lebih cepat, lebih akurat, dan memberikan pengalaman yang semakin baik bagi nasabah," ucap Listianawati. Hingga Juni 2026, Listianawati mengatakan, rasio klaim kesehatan Ciputra Life masih berada pada tingkat yang sehat sesuai profil risiko dan strategi bisnis perusahaan. Dia menyampaikan kondisi tersebut mencerminkan komitmen Ciputra Life dalam memenuhi manfaat perlindungan kepada nasabah secara tepat waktu dan transparan, sekaligus menjaga keseimbangan antara kualitas layanan, pengelolaan risiko, dan keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Amar Bank (AMAR) Tebar Dividen Interim Rp 70,25 Miliar, Simak Jadwalnya Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, AI mulai dimanfaatkan industri perasuransian, khususnya pada lini asuransi kesehatan. Adapun pemanfaatan AI bertujuan untuk mendukung peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Secara rinci, OJK menyebut pemanfaatan AI pada lini asuransi kesehatan digunakan dalam proses
underwriting, pengelolaan klaim, deteksi potensi
fraud, analisis data kesehatan, serta layanan pelanggan melalui
chatbot. Selain itu, digunakan juga untuk pengembangan produk yang lebih sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan nasabah. Dari perspektif OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan, pemanfaatan AI merupakan bagian dari transformasi digital yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan industri perasuransian. Meski demikian, dia menyebut penerapan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan didukung tata kelola yang baik dan penerapan manajemen risiko memadai. "Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa risiko yang timbul dari penggunaan AI, seperti risiko operasional, siber, model (model risk), pelindungan data pribadi, serta bias algoritma, telah diidentifikasi, diukur, dipantau, dan dikendalikan secara efektif," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Maybank Indonesia Finance Catat Laba Tumbuh 40,83% pada Semester I-2026 Ogi menyampaikan penggunaan AI juga tidak menghilangkan tanggung jawab direksi dan manajemen perusahaan dalam memastikan bahwa setiap keputusan yang dihasilkan tetap dapat dipertanggungjawabkan, transparan, adil, dan tidak merugikan konsumen. Sementara itu, Ogi memandang bahwa penerapan AI harus sejalan dengan prinsip kehati-hatian (prudential principle). Dengan demikian, inovasi teknologi tidak mengorbankan kualitas pengelolaan risiko maupun pelindungan konsumen. Ke depannya, OJK mendukung pemanfaatan AI sebagai salah satu pendorong inovasi dan peningkatan daya saing industri perasuransian. Terkait kinerja asuransi kesehatan di industri asuransi jiwa, OJK mencatat, pendapatan premi lini asuransi kesehatan di industri asuransi jiwa mencapai Rp 14,73 triliun per April 2026, sedangkan nilai klaimnya mencapai Rp 8,51 triliun per April 2026. Jadi, cukup terkendali rasio klaimnya di level 57,78%. (*) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News