Ciputra menyisir pasar perhotelan



JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk atawa Ciputra Group, menargetkan pertumbuhan bisnis hotel 5% sepanjang tahun ini. Selain pasar yang belum bergairah, suplai hotel yang melimpah juga menjadi pertimbangan mereka dalam menetapkan target kinerja.

Pasokan hotel yang melimpah membikin persaingan bisnis kian ketat. "Saat ini masalah utama adalah kompetisi sangat besar karena banyaknya pemain-pemain baru bermunculan," kata Artadinata Djangkar, Direktur Ciputra Group kepada KONTAN, Minggu (5/3).

Dus Ciputra Group berharap, pemerintah membatasi izin pembangunan alias moratorium hotel baru di wilayah yang sudah kelebihan pasokan. Perusahaan tersebut mencontohkan lokasi Bali, Yogyakarta, Bandung dan Cirebon.


Asal tahu, Ciputra Group mengoperasikan 10 hotel. Tiga di antaranya merupakan hotel bintang 5, yakni Raffles Hotel Jakarta, Ciputra Hotel Semarang dan Hotel Ciputra World Surabaya.

Selebihnya terdiri dari dua hotel bintang empat, yakni Ciputra Hotel Jakarta dan Ciputra Hotel Cibubur. Lantas ada lima hotel bujet yang tersebar di Cirebon, Semarang, Bandung, Yogyakarta dan Bintaro.

Dari 10 koleksi hotel tersebut, Hotel Citradream Bintaro mencatatkan tingkat okupansi alias keterisian kamar terttinggi. Ciputra Group menduga, penyebabnya adalah persaingan bisnis hotel di sekitar Hotel Citradream Bintaro tak seketat lokasi sembilan hotel yang lain.

Sepanjang tahun ini Ciputra Group membidik tingkat okupansi sekitar 70%. Namun, pengecualian terjadi pada hotel bintang 5 seperti Hotel Raffles Jakarta. Ciputra Group hanya berharap, tingkat okupansi hotel itu naik dari 45% tahun lalu menjadi sekitar 50% tahun ini.

Menurut pengalaman Ciputra Group, biasanya tingkat keterisian kamar hotel bintang 5 tidak terlalu tinggi. Mereka justru lebih mengandalkan pendapatan dari sewa fasilitas ballroom untuk acara pernikahan maupun kegiatan korporasi.

Tanpa membeberkan target nilai pendapatan, sepanjang tahun 2017 Ciputra Group hanya akan mengandalkan bisnis dari 10 hotel eksisting. Sebab, tahun ini mereka tak berencana menambah hotel.

Meskipun, Ciputra Group punya mimpi membangun dua hotel bujet di Bengkulu dan Serpong, Banten. Rencana itu bahkan nyaris tinggal jalan karena mereka sudah memiliki lahan untuk kedua proyek. "Kami akan bangun setelah pasarnya sudah mulai bagus," ungkap Arta.

Berkah Raja Salman

Asal tahu, target pertumbuhan tingkat okupansi Hotel Raffles Jakarta tadi merupakan dampak dari menginapnya rombongan Raja Salman. Rombongan Raja Saudi memesan 173 kamar Hotel Raffles Jakarta dari 26 Februari - 3 Maret 2017. Tarifnya mulai dari Rp 3 juta per kamar hingga tarif termahal US$ 10.000 per kamar.

Ciputra Group membantah ada hubungan khusus antara keluarga Kerajaan Arab Saudi, yakni Pangeran Alwaleed melalui Kingdom Hotel Company (KHC), dengan Hotel Raffles Jakarta. Mereka menampik kabar yang menyebutkan KHC merupakan pemilik Hotel Raffles Jakarta.

Sebaliknya, Ciputra Group memastikan jika seluruh aset Hotel Raffles Jakarta miliknya. Perusahaan itu memiliki Hotel Raffles Jakarta melalui PT Ciputra Adigraha.

Adapun International Fairmont Raffles Hotels and Residences (FHRI) Holdings merupakan pengelola Hotel Raffles Jakarta. "KHC itu mungkin punya kepemilikan di perusahaan operator itu saja, tapi saya tidak tahu porsi mereka berapa," jelas Arta

Selain keuntungan materi, Ciputra Group yakin menginapnya rombongan Raja Salman akan membikin citra hotelnya meningkat. Maklum, Hotel Raffles Jakarta baru berdiri tahun 2015.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie