KONTAN.CO.ID - Istilah saham gorengan populer di kalangan pelaku pasar Indonesia. Saham gorengan adalah saham yang mengalami pergerakan harga dan volume tidak wajar akibat intervensi pihak tertentu. Menurut penjelasan resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), istilah saham gorengan bukan menyatakan kelompok saham tertentu, melainkan mengacu pada saham yang melewati proses manipulasi harga. BEI menegaskan pengawasan akan difokuskan pada praktik yang menyebabkan munculnya saham dengan pola perdagangan tidak wajar.
Isu saham gorengan sangat diperhatikan publik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami gejolak dan penyelidikan terhadap dugaan praktik manipulatif. Lembaga pemeringkat indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencatat kekhawatiran atas keterbukaan struktur kepemilikan dan praktik perdagangan tertentu, sehingga menimbulkan tekanan modal asing dan penurunan nilai pasar yang signifikan. Saham gorengan menjadi sorotan di tengah IHSG anjlok selama dua hari berturut-turut pada 28 dan 29 Januari 2026 lalu. Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, saham gorengan merupakan hasil manipulasi dan tidak mesti merupakan saham dari kelompok tertentu. “Tidak harus saham dari kelompok tertentu, tetapi seluruh kegiatan yang melakukan manipulasi harga di pasar,” kata Jeffrey di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Baca Juga: Registrasi BRImo Gagal? Ini Cara Cepat Mengatasinya agar Langsung Berhasil Ciri-ciri saham gorengan
Ada beberapa pola yang sering muncul pada saham yang digolongkan sebagai saham gorengan. 1. Lonjakan harga dan volume yang tiba-tiba tanpa fundamental pendukung Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menyatakan, banyak saham yang harganya tidak masuk akal jika dilihat dari rasio seperti enterprise value to sales (EV/Sales). Ini adalah indikasi bahwa pergerakan harga lebih didorong oleh spekulasi atau koordinasi perdagangan daripada kinerja bisnis. "Banyakan dari sisi investor atau kalau MSCI sebutnya uninvestability. Kenapa? Karena mungkin secara valuasi sangat tinggi," ujar Pandu. 2. Konsentrasi kepemilikan dan free float rendah Saham dengan persentase saham yang tersedia untuk publik (free float) kecil atau saham yang dikuasai oleh kelompok terafiliasi dapat mempermudah pengendalian harga oleh pihak tertentu. Perhatian terhadap struktur kepemilikan ini muncul pula dari pemantauan indeks internasional. 3. Perilaku perdagangan yang tampak terkoordinasi Pola jual-beli terulang pada waktu tertentu, kemunculan akun atau klaster pembeli atau penjual yang sama, dan perubahan likuiditas yang drastis mengindikasikan adanya campur tangan terstruktur. BEI dan OJK menyatakan bakal mengawasi pasar untuk praktik semacam ini. 4. Promosi agresif di media sosial atau kanal lain tanpa informasi fundamental OJK menyampaikan kekhawatiran mengenai peran influencer dan promosi yang bisa memicu FOMO (fear of missing out) pada investor ritel.
Baca Juga: Cara Bayar Tagihan Iconnet dengan Aplikasi Shopee dan ShopeePay OJK akan memasukkan pengawasan terhadap konten pasar (market conduct) sebagai bagian dari upaya pencegahan. Dampak saham gorengan pada investor, khususnya investor pemula Saham gorengan dapat menyebabkan keuntungan besar dalam waktu singkat namun juga kerugian yang seketika ketika tren berbalik. Investor ritel, yang sering kurang pengalaman atau terdorong FOMO, berisiko membeli saat harga sudah dikerek naik dan kemudian menghadapi penurunan tajam ketika pelaku utama mengambil untung atau intervensi penegak hukum dan regulator menindak.
Cara menghindari saham gorengan
Berikut beberapa cara hindari saham gorengan untuk menjadi checklist bagi investor pemula. 1. Periksa fundamental perusahaan secara menyeluruh Tinjau laporan keuangan (laba/rugi, arus kas, neraca) selama beberapa periode. Cari konsistensi pendapatan dan kemampuan menghasilkan arus kas. Sekuritas dan analis menekankan pentingnya tidak membeli sekadar karena harga sedang naik pesat. 2. Amati free float dan struktur kepemilikan Cek persentase saham yang dimiliki publik (free float) dan apakah ada konsentrasi kepemilikan pada pemegang saham inti atau afiliasi. Saham dengan free float sangat rendah rentan dimanipulasi. 3. Perhatikan pola volume dan harga, waspadai lonjakan tiba-tiba Bandingkan volume perdagangan rata-rata harian dengan volume saat terjadi lonjakan harga. Volume yang melonjak bersamaan dengan kenaikan harga tanpa berita fundamental dapat menjadi sinyal waspada. Anda bisa memanfaatkan penggunaan screener untuk mendeteksi lonjakan abnormal. 4. Cari berita korporasi yang kredibel dan keterbukaan informasi Pastikan kenaikan harga didukung oleh pengumuman resmi (laporan laba, kontrak bisnis signifikan, merger, dan sebagainya) yang dapat diverifikasi lewat keterbukaan informasi BEI atau siaran pers perusahaan. Hindari keputusan investasi yang hanya berdasarkan postingan media sosial atau rumor.
Tonton: IHSG Anjlok 4,73% Sepekan, Tekanan Global dan Outlook Moody’s Membayangi Pasar 5. Gunakan rasio valuasi dan bandingkan dengan peer group Rasio seperti EV/Sales, PER, PBV dapat membantu menilai apakah harga saham wajar dibandingkan perusahaan sejenis. Jika valuasi jauh di atas peer tanpa alasan fundamental, tingkat kehati-hatian harus lebih tinggi. 6. Batasi porsi investasi pada saham berisiko tinggi dan tetapkan rencana keluar (stop-loss) Investor pemula disarankan tidak menaruh proporsi besar portofolio pada saham yang volatilitasnya ekstrem. Beberapa sekuritas merekomendasikan aturan alokasi dan penggunaan stop-loss yang disiplin untuk mengelola risiko. 7. Gunakan rekening di perusahaan sekuritas yang teregulasi dan periksa reputasi broker Pilih broker berizin, periksa rekam jejak, dan waspadai praktik yang tidak wajar. 8. Edukasi diri dan jangan tergesa-gesa, hindari FOMO Banyak kasus kerugian ritel muncul karena pembelian didorong oleh cerita keuntungan cepat dari akun social media atau grup-obrolan. Regulator dan asosiasi pasar modal merekomendasikan edukasi investor sebagai penangkal utama.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"Saham Gorengan: Pengertian, Ciri-ciri, dan Tips Aman bagi Investor Pemula" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News