KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perkebunan sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), masih mengkaji target produksi dan penjualan untuk tahun 2027 di tengah potensi dampak El Nino terhadap produktivitas kebun.
VP Corporate Secretary CSRA Iqbal Prastowo mengatakan perusahaan berencana membahas target produksi dan penjualan tahun depan secara internal pada November 2026.
“Manajemen akan mempertimbangkan beberapa variabel seperti kondisi cuaca yang tidak menentu terutama El Nino, keterkaitan harga pupuk dengan kondisi geopolitik, juga iklim industri dalam negeri,” ungkap Iqbal, kepada
Kontan.co.id, Senin (12/10).
Baca Juga: Industri MICE Masih Positif, Ini Tren Event Menjelang Akhir Tahun 2026 Dampak El Nino tersebut sudah mulai dirasakan perseroan di sejumlah wilayah operasional perusahaan, terutama Sumatera Selatan. Sementara itu, kondisi kebun CSRA di Sumatera Utara masih menghadapi curah hujan yang cukup tinggi. Untuk mengantisipasi potensi gangguan produktivitas, CSRA berfokus pada pengelolaan air di area perkebunan. Langkah tersebut mencakup pemeliharaan parit, pengaturan pintu air, serta pemanfaatan embung air di titik-titik yang diperlukan. Di sisi pengolahan, Cisadane juga mengandalkan pembelian tandan buah segar (TBS) dari pihak eksternal yang memenuhi standar perusahaan. Strategi ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku agar proses pengolahan di pabrik tetap berjalan optimal. "Dalam segi produksi buah untuk diolah, perusahaan memberlakukan pembelian buah luar yang sesuai standar perusahaan, untuk dapat menjaga proses dalam pabrik tetap berjalan optimal," jelas Iqbal. Sembari mencermati risiko cuaca, CSRA akan mengoptimalkan kapasitas pengolahan dari tiga pabrik kelapa sawit (PKS) yang dimiliki. Perusahaan belum berencana menambah pabrik baru dalam waktu dekat dan memilih memaksimalkan fasilitas yang telah tersedia. Dalam jangka pendek, CSRA akan mengoptimalkan utilitas tiga PKS dengan dukungan peningkatan pembelian TBS eksternal. Perusahaan
juga akan mulai mengerjakan cadangan lahan atau
landbank yang dimiliki di Sumatera Selatan. Untuk mendukung strategi tersebut, CSRA menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) multiyears periode 2025–2027 sebesar Rp 109 miliar. Alokasi tersebut digunakan untuk pengembangan landbank dan sejumlah aktivitas strategis lainnya. Strategi optimalisasi operasional ini menjadi salah satu penopang bagi CSRA untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tantangan produksi.
Sebagai gambaran, CSRA membukukan produksi CPO sebesar 103.901 ton sepanjang 2025, meningkat 86,5% secara tahunan dari 55.700 ton pada 2024.
Adapun pada 2026, CSRA mempertahankan target produksi CPO sebesar 136.003 ton. Manajemen optimistis produksi tahun ini dapat melampaui realisasi tahun sebelumnya, dengan dukungan operasional tiga PKS secara penuh sepanjang tahun. “Tahun ini adalah tahun pertama kami beroperasi penuh dengan tiga pabrik kelapa sawit sepanjang tahun. Perseroan optimis capaian produksi CPO akhir tahun ini akan lebih besar dari tahun sebelumnya,” pungkasnya.
Baca Juga: Bahlil Petakan Bahan Baku untuk Bahan Bakar Etanol E10-E50, Ini Wilayahnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News