Cisadane Sawit Raya (CSRA) Kejar Target Pendapatan Rp 2 Triliun Sampai Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencatat pertumbuhan pendapatan yang cukup kuat pada semester I-2026. Kendati demikian, kenaikan penjualan tersebut belum sepenuhnya diikuti pertumbuhan laba bersih.

Mengacu laporan keuangan semester I-2026, CSRA membukukan pendapatan Rp 1,23 triliun, tumbuh 65,1% secara tahunan dari Rp 745 miliar pada semester I-2025. 

Namun, laba bersih perseroan tercatat Rp131,6 miliar, turun 7,4% dibandingkan Rp 142,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.


Dengan capaian tersebut, pendapatan CSRA telah merealisasikan sekitar 61,5% dari target penjualan tahun ini sebesar Rp2 triliun. Sementara laba bersih baru mencapai sekitar 43,9% dari target sekitar Rp 300 miliar.

Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Siapkan Mitigasi El Nino, Antisipasi Efek ke Produksi pada 2027

VP Corporate Secretary CSRA Iqbal Prastowo mengatakan perseroan masih optimistis terhadap prospek bisnis hingga akhir 2026. Salah satu penopangnya adalah ekspektasi harga CPO yang masih berada pada level kuat.

"Perseroan tetap optimis terhadap prospek bisnis hingga akhir 2026. Harga CPO diproyeksikan masih bertahan di level yang kuat di tengah dinamika geopolitik global," ucap Iqbal kepada Kontan.co.id, Senin (28/9/2026). 

Untuk mengejar target tersebut, CSRA akan mengoptimalkan kapasitas tiga pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi. 

Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan pasokan Tandan Buah Segar (TBS) dari pihak eksternal untuk menjaga utilisasi pabrik. Dengan tetap berpegang pada standar kualitas yang ketat, sehingga oil extraction rate (OER) dapat terjaga pada tingkat yang optimal. 

Baca Juga: Aktivitas Tambang Ilegal Masih Marak, IMEF Dorong Penindakan Tegas

Strategi tersebut, kata dia, menjadi bagian dari upaya perusahaan  menjaga volume pengolahan pada semester II-2026. 

Selain mengejar pertumbuhan pendapatan, CSRA juga melanjutkan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) pada semester II-2026.

“Pada semester II-2026, Perseroan akan melanjutkan realisasi sisa anggaran capex dengan tiga prioritas utama yakni program replanting, penanaman baru di area anak usaha, juga pengembangan landbank yang ada," ujar Iqbal.

Menurutnya, pengelolaan capex tetap dilakukan secara disiplin dengan mempertimbangkan kondisi pasar CPO dan kemampuan arus kas perusahaan.

Dengan demikian, setiap program yang dijalan di sisa tahun 2026 diharapkan dapat memberikan imbal hasil yang optimal tanpa mengganggu stabilitas keuangan Perseroan," katanya.

Baca Juga: El Nino Tekan Industri, IKI September Turun ke Level 51,93

Di sisi lain, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan yang tetap dipantau perseroan. CSRA memiliki dua regional kebun di Sumatra, yakni Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.

Untuk saat ini, perusahaan menyebut dampak El Nino belum signifikan terhadap produksi kebun. Regional Sumut masih mendapatkan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi, sedangkan regional Sumsel telah memasuki musim kemarau.

Di sisi lain, perusahaan juga sudah menyiapkan sejumlah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produktivitas tanaman yang berpotensi baru terlihat pada 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News