Cisadane Sawit Raya (CSRA) Optimis Catatkan Kinerja Apik pada Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perkebunan sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menatap tahun 2026 dengan optimisme seiring prospek industri sawit nasional dan global yang masih solid. 

Kinerja perseroan sepanjang 2025 juga menunjukkan lonjakan signifikan, terutama dari sisi penjualan crude palm oil (CPO), pendapatan, hingga profitabilitas.

Corporate Secretary CSRA, Iqbal Prastowo, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 penjualan CPO perseroan meningkat hampir 80% dibandingkan tahun sebelumnya.


Sedangkan dari sisi pendapatan dan profitabilitas meningkat tajam dibandingkan tahun lalu. Namun, untuk angka pastinya belum bisa dibeberkan karena masih menunggu hasil audit laporan keuangan. 

Baca Juga: Strategi Alkindo (ALDO) Capai Target Pendapatan Tumbuh hingga 20% pada 2026

“Sebagai gambaran, pendapatan dan profitabilitas September 2025 sudah melampaui pendapatan dan profitabilitas tahun 2024. Hal ini utamanya dari peningkatan penjualan CPO serta harga,” ujar Iqbal, dalam siaran pers, Senin (19/1). 

Memasuki 2026, manajemen melihat prospek industri sawit masih cukup menjanjikan, baik di pasar nasional maupun global. Dukungan kebijakan pemerintah, khususnya penerapan program biodiesel B50, menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Cisadane Sawit Raya menargetkan volume produksi dan penjualan juga akan lebih tinggi dari tahun 2025, hal ini karena Pabrik Kelapa Sawit (PKS) ke-3 di Banyuasin telah beroperasi penuh di tahun 2026. Dus, untuk peningakatannya masih dihitung menunggu keluarnya angka audited 2025. 

Untuk menjaga kinerja tetap solid di tengah fluktuasi harga CPO, kenaikan biaya pupuk, serta tekanan operasional, CSRA menerapkan strategi efisiensi dan tata kelola yang ketat, termasuk di dalamnya adalah memperkuat mekanisasi transport dan panen. 

Dari sisi belanja modal atau capital expenditure (Capex), CSRA menyiapkan dana sekitar Rp 100 miliar multi year untuk 2026 dan 2027 yang akan digunakan untuk sarana dan prasarana kebun, mekanisasi, serta penanaman pada landbank yang sudah ada. 

Meski prospek industri masih positif, perseroan tetap mencermati berbagai tantangan, terutama faktor cuaca.

“Peluang utama ada pada cuaca, dihadapi dengan mitigasi bencana dan penerapan good agronomy practice,” katanya.

Sebagai tambahan informasi, pendapatan CSRA melonjak 75,9%menjadi Rp 1,33 triliun per September 2025, dibandingkan Rp 758,78 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba operasi tercatat sebesar Rp 302,42 miliar dengan marjin 22,7%, sementara laba bersih meningkat 70,6% menjadi Rp 213,92 miliar pada periode Januari–September 2025.

Kinerja positif ini turut ditopang oleh kenaikan harga jual. Harga CPO naik 15,7% secara tahunan (YoY), sementara harga TBS dan kernel masing-masing meningkat 24,3% YoY dan 69,4% YoY.

Baca Juga: Kenaikan Pungutan Ekspor Sawit Jadi 12,5 Persen Bakal Tekan Harga CPO Dalam Negeri

Selanjutnya: Kurs Dolar di Bank Tembus Rp 17.000, HSBC Nilai Masih Sejalan Pasar

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 20 Januari 2026, Utamakan Kolaborasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: