KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) berencana memperluas diversifikasi produk turunan susu dengan membidik produk keju dan es krim. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas portofolio produk olahan susu di tengah peluang pasar domestik yang masih terbuka. Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk Pamungkas Bayu Triprasetyo mengatakan, perusahaan akan mengkaji peluang pengembangan berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Baca Juga: UMP 2027 Diusulkan Naik hingga 15%, Ini Rincian Tuntutan Buruh Menurutnya, inovasi produk menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan bisnis CMRY. Perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan produk susu cair, tetapi juga melihat peluang pada berbagai produk olahan susu lainnya. “Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Pamungkas saat ditemui di pabrik CMRY di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). Rencana tersebut mendapat dorongan dari Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji yang menantang CMRY untuk mengembangkan lebih banyak produk turunan susu, termasuk keju dengan cita rasa khas Indonesia dan es krim. Sarmuji menilai pengembangan produk yang menyesuaikan dengan selera konsumen Indonesia masih memiliki ruang pasar yang besar. Pemerintah bahkan menargetkan inovasi tersebut dapat direalisasikan CMRY dalam waktu satu tahun ke depan. Bagi CMRY, pengembangan produk baru tersebut juga perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku susu. Pamungkas mengatakan, saat ini perusahaan membutuhkan sekitar 1.000 ton susu segar per bulan untuk mendukung kegiatan produksinya. Namun, pasokan susu segar dari dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20%–30% dari total kebutuhan tersebut. Susu segar tersebut diperoleh dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. “Kami menyerap sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” jelas Pamungkas. Menurut Pamungkas, keterbatasan pasokan susu segar domestik menjadi salah satu tantangan bagi industri pengolahan susu. Karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional akan ikut menentukan kemampuan industri dalam meningkatkan penggunaan bahan baku lokal. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi peluang CMRY untuk terus melakukan inovasi produk. Perusahaan akan melihat potensi masing-masing produk turunan susu, termasuk dari sisi kebutuhan konsumen dan ketersediaan bahan baku. Sebagai tambahan informasi,
pada tahun ini CMRY menargetkan kenaikan dua digit untuk penjualan. Jika ditelaah, kinerja Cisarua Mountain Dairy selama paruh pertama terpantau positif. Sepanjang semester I-2026, pendapatan CMRY tercatat mencapai Rp 6,50 triliun, meningkat 25,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi
bottom line, laba bersih CMRY mengalami pertumbuhan 17,88% menjadi Rp 1,17 triliun, dibandingkan Rp 993,87 miliar di semester I-2025. Manajemen CMRY tidak menyebutkan secara detail berapa alokasi belanja modal atau
capital expenditure (Capex) tahun ini. Ia menyebut bahwa capex 2026 akan diarahkan terutama untuk mendukung kebutuhan operasional dan pertumbuhan bisnis, termasuk pengembangan dan peningkatan kapasitas produksi.
Baca Juga: Menperin Minta Cisarua Mountain Dairy (CMRY) Produksi Keju Khas Indonesia dan Es Krim Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News