Citi Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 3,5% PDB Dipicu Lonjakan Belanja Pemerintah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Citigroup memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berpotensi meningkat signifikan dan menembus batas aman, mencapai 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Perkiraan tersebut mengindikasikan risiko pelanggaran batas defisit maksimal 3% dari PDB sebagaimana diatur dalam kerangka fiskal Indonesia. 

"Citi group memperkirakan defisit APBN 2026 bisa naik ke 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari proyeksi awal 2,7%," tulis laporan tersebut, dikutip Senin (12/1/2026).


Baca Juga: MBG Capai 58 Juta Penerima dalam Setahun, Prabowo: Negara Mana yang Bisa Begitu?

Citi menilai, peningkatan defisit APBN 2026 terutama dipicu lonjakan belanja pemerintah, khususnya belanja program makan gratis bergizi (MBG) serta kebutuhan biaya rekonstruksi pascabanjir di wilayah Sumatra.

Selain itu, kombinasi belanja yang ekspansif dan kinerja penerimaan yang belum pulih sepenuhnya berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah ke depan.

Maklum posisi defisit yang sudah relatif tinggi pada akhir 2025 yakni mencapai 2,9% terhadap PDB, merupakan level tertinggi di luar masa pandemi dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini dipengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi serta penerimaan pajak yang cenderung melemah.

Dalam situasi tersebut, pemerintah dinilai memiliki dua opsi kebijakan utama, yakni merevisi aturan batas defisit fiskal atau melakukan penyesuaian belanja secara signifikan untuk menjaga kesinambungan fiskal.

"Implikasi ke depan, pemerintah bisa merevisi aturan batas defisit, atau Melakukan pemangkasan belanja besar-besaran," tulis laporan tersebut

Dari sisi pembiayaan, Citi memproyeksikan rasio utang pemerintah akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Rasio utang terhadap PDB diperkirakan naik ke kisaran 42% pada 2029, dibandingkan sekitar 39% pada 2025.

Baca Juga: Citi Indonesia Prediksi BI Tahan Suku Bunga pada November Ini

Meski masih berada pada level yang relatif terkendali, kenaikan rasio utang tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan fiskal seiring kebutuhan belanja pemerintah yang besar di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara.

Selanjutnya: Purbaya Bakal Bebaskan Pungutan PPN Untuk Bantuan Bencana Sumatera pada Tahun 2026

Menarik Dibaca: Harga Emas Hari Ini Rekor All Time High, Nyaris Mencapai US$ 4.600 per troi ons

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News