Citra Marga (CMNP) Siapkan Capex Rp 5 Triliun Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten jalan tol PT Citra Marga Nursaphala Persada Tbk (CMNP) fokus melanjutkan proyek pengembangan jalan layang Harbour Road (HBR) II ruas Ancol Timur - Jembatan Tiga Pluit dan jalan tol ruas Depok - Antasari - Salabenda Seksi 3-4. 

Direktur Independen CMNP Hasyim mengatakan, panjang proyek tol HBR II yang dikerjakan tahun ini adalah kurang lebih 9,6 kilometer.

"Untuk pengembangan proyek HBR II, kami tahun 2024 merencanakan pembelanjaan capital expenditure (capex) senilai Rp 5 triliun," ujarnya kepada Kontan, Rabu (24/1). 


Lebih lanjut, tahun ini CMNP juga membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 10%. Sementara itu, proyeksi laba bersih tahun 2024 diprediksi bakal turun 29% akibat adanya beban bunga pinjaman bank PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) dan PT Citra Waspphutowa (CW) dalam pembiayaan prlyek HBR II, Desari seksi 3 - 4. Serta pelunasan utang kontraktor Cisumdawu.

Meski demikian, CMNP telah menyiapkan berbagai strategi dalam mengantisipasi penurunan laba tahun 2024. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan tetap mengutamakan sumber pendanaan dari ekuitas dibandingkan dengan pinjaman bank.

"Hal ini dikarenakan saat ini tingkat suku bunga pinjaman mengalami kenaikan yang akan berdampak terhadap beban bunga," kata Hasyim.

Baca Juga: Bangun Jalan Tol Layang, Citra Marga (CMNP) Dapat Suntikan Dana Rp 600 Miliar

Hasyim juga memastikan kinerja akhir 2023 masih sesuai target. Dia menyampaikan, pada akhir tahun 2023 kinerja CMNP akan membaik dengan menargetkan peningkatan pendapatan menjadi sebesar Rp 3,5 triliun dan laba sebesar Rp 1,80 triliun.

Sebagai perbandingan, CMNP mencetak pendapatan senilai Rp 4,46 triliun sepanjang 2022, naik 0,59% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 4,44 triliun. Lalu, laba bersih sepanjang 2022 tercatat sebesar Rp 914,46 miliar, tumbuh 24% dari laba tahun 2021.

Hasyim mengatakan, tahun 2024 ini tantangan yang dihadapi dalam bisnis jalan tol masih seputar pembiayaan infrastruktur jalan tol, seperti pembebasan lahan dan biaya konstruksi yang membengkak.

"Biaya pembangunan yang sangat besar dibutuhkan dalam pembangunan jalan tol. Namun dengan tingginya tingkat suku bunga pinjaman dari bank membuat perusahaan tol harus lebih berinovasi dengan melakukan berbagai skema keuangan dan melakukan startegi-strategi efesiensi. Semua ini dilakukan agar pembangunan jalan tol dapat diselesaikan tepat waktu," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat