Clipan Finance revisi harga rights issue



JAKARTA. Gejolak di bursa saham menyebabkan perusahaan pembiayaan Clipan Finance menurunkan harga penawaran saham terbatas atau rights issue. Clipan semula menawarkan Rp 500 per saham, kini menjadi Rp 400 per saham. "Kami ingin pemegang saham existing lebih banyak berpartisipasi," kata Sekretaris Perusahaan Clipan, Dwi Janto, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Jumat (23/9).

Di samping itu, pasar saham yang turun cukup tajam juga menjadi bahan pertimbangan. "Kami khawatir penyerapan susah," tambah Dwi.

Melalui proses rights issue ini, Clipan yang melepas 1,17 miliar saham dan menargetkan perolehan dana segar Rp 468 miliar. Clipan sudah menunjuk Evergreen Capital dan Indo Premier Securities sebagai penjamin emisi hajatan ini. Evergreen Capital juga bertindak selaku pembeli siaga.


Bank Panin yang menjadi induk usaha Clipan memiliki hak menyerap sekitar 30% saham baru. Saat ini, sebanyak 54% saham Clipan digenggam Bank Panin, sisanya beredar di publik.

Kendati menurunkan target rights issue, Clipan masih mempertahankan target obligasi senilai Rp 500 miliar. Obligasi ini masih menunggu pra efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sehingga Dwi belum bisa membeberkan lebih jauh mengenai tenor dan kupon bunga.

Dari total kebutuhan dana tahun ini sebesar Rp 3,5 triliun-Rp 4 triliun, hanya Rp 1 triliun yang berasal dari modal Clipan. Sisanya dari pinjaman perbankan. Clipan antara lain bekerjasama dengan Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA) dan Bank BNI.

Sampai Agustus, nilai pembiayaan baru Clipan yang meliputi pembiayaan konsumen, sewa guna usaha, dan anjak piutang mencapai Rp 2,5 triliun. Nilai ini naik sekitar 60% dari Agustus 2010.

Peningkatan pembiayaan didorong pembukaan cabang baru, sehingga perusahaan menggaet lebih banyak nasabah. Dari 31 cabang yang ada, Clipan berencana menambah empat lagi di Sumatera dan Sulawesi tahun ini.

Portofolio bisnis Clipan terbesar adalah pembiayaan konsumen sebesar 60%, sewa guna usaha 30%-35%, dan sisanya anjak piutang. Ke depan, pembiayaan konsumen masih akan jadi prioritas. "Populasi Indonesia yang besar merupakan potensi pasar yang besar," kata Dwi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: