CNAF Sebut Penerbitan Surat Berharga Multifinance Turun Dipengaruhi Sejumlah Faktor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penerbitan surat berharga multifinance turun 12,7% secara Year on Year (YoY), menjadi Rp 62,19 triliun hingga Juli 2026.

PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menilai penurunan penerbitan surat berharga multifinance tidak semata-mata dipengaruhi oleh tren suku bunga. Meski suku bunga mulai bergerak lebih rendah dan dapat memberikan ruang bagi penurunan biaya dana, Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan keputusan penerbitan surat berharga juga mempertimbangkan kondisi likuiditas, kebutuhan pendanaan, waktu penerbitan, kondisi pasar dan minat investor.

"Dengan demikian, penurunan penerbitan surat berharga merupakan cerminan dari penyesuaian strategi pendanaan oleh masing-masing perusahaan, termasuk dengan mengoptimalkan sumber pendanaan lain yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar saat ini," katanya kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).


Ristiawan mengatakan penurunan penerbitan surat berharga belum tentu mencerminkan penurunan kebutuhan pendanaan industri. Ia bilang kebutuhan pendanaan tetap sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan bisnis perusahaan multifinance.

Baca Juga: CNAF Terbitkan Obligasi Rp 200 Miliar dan Sukuk Rp 900 Miliar pada Semester I-2026

Dalam kondisi pasar yang dinamis saat ini, Ristiawan menyampaikan CNAF terus mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan yang tersedia dan menyesuaikan penerbitan surat berharga dengan kebutuhan bisnis CNAF, serta kondisi pasar pada saat penerbitan. Dengan demikian, penurunan penerbitan surat berharga lebih mencerminkan adanya penyesuaian strategi dan waktu pendanaan, bukan semata-mata karena penurunan kebutuhan pendanaan.

Ristiawan juga menyampaikan perusahaan multifinance memiliki sejumlah alternatif sumber pendanaan, antara lain pinjaman perbankan, penerbitan obligasi dan sukuk, maupun sumber pendanaan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik perusahaan. 

Ia bilang diversifikasi sumber pendanaan tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola kebutuhan pendanaan, dengan memilih dan mengoptimalkan sumber pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 

"Dalam menentukan sumber pendanaan, perusahaan tentunya tetap mempertimbangkan kondisi pasar, tenor, biaya dana, serta kebutuhan likuiditas," ungkapnya.

Ristiawan mengatakan CNAF tetap membuka peluang penerbitan surat utang pada semester II-2026 untuk mendukung kebutuhan pertumbuhan pembiayaan dan strategi diversifikasi sumber pendanaan perusahaan. Namun, ia menyebut realisasinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan likuiditas dan kondisi pasar. 

Sebagai informasi, CNAF telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance Tahap I Tahun 2026 sebesar Rp 200 miliar, sebagai bagian dari program Penawaran Umum Berkelanjutan dengan target dana yang dihimpun hingga Rp 5 triliun. Selain itu, pada Maret 2026, CNAF juga telah menerbitkan Sukuk sebesar Rp 900 miliar. 

Baca Juga: CNAF: Kenaikan BI Rate Jadi Pertimbangan dalam Penerbitan Obligasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News