CNG Disiapkan Jadi Pengganti LPG 3 Kg, Subsidi Diproyeksi Turun 30%-40%



KONTAN.CO.ID - Pemerintah terus mematangkan rencana substitusi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG) untuk kebutuhan rumah tangga. Kebijakan ini dinilai strategis karena berpotensi menekan impor LPG sekaligus memangkas beban subsidi energi secara signifikan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut, pemanfaatan gas bumi domestik melalui CNG dapat menurunkan kebutuhan subsidi LPG hingga 30%–40%.

“Setelah dihitung-hitung tadi Pak Menteri menyampaikan sebenarnya masih tetap diperlukan adanya subsidi, tetapi subsidi itu berkurang bisa 30%–40% karena proses efisiennya kita CNG ini yang punya kita sendiri dibanding dengan kita harus impor,” ujar Laode, dikutip dari podcast di kanal YouTube Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).


Menurutnya, tingginya beban subsidi selama ini dipengaruhi oleh mahalnya harga LPG di pasar global serta biaya distribusi dan rantai pasok yang panjang. Sementara itu, Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang melimpah dengan harga yang relatif lebih murah.

“LPG itu kan kita impor harganya mahal, kemudian distribusinya juga butuh cost. Gas kita punya banyak, melimpah, harganya murah, tapi tabungnya yang mahal karena materialnya khusus,” jelas Laode.

Meski demikian, ia mengakui bahwa implementasi program CNG memerlukan investasi besar, terutama untuk penyediaan tabung khusus serta penguatan infrastruktur distribusi.

Baca Juga: Mensesneg: Stok Beras di Gudang Bulog Tembus 5,3 Juta Ton

Laode juga mengatakan, pemerintah masih mengkaji formulasi teknis mengenai pemanfaatan potensi penghematan subsidi tersebut, apakah akan dialihkan untuk pengurangan subsidi atau untuk menjaga harga jual tetap terjangkau.

“Tinggal 40%–30% tadi mau dibagi ke mana saja, mau dipotong subsidi-nya atau dikurangi harganya, nanti itu teknis pelaksanaannya,” tuturnya.

Untuk mendukung transisi, pemerintah juga memastikan infrastruktur distribusi LPG yang telah ada tetap dapat dimanfaatkan dalam skema bisnis baru. Pola distribusinya akan dibuat semirip mungkin dengan sistem LPG saat ini, hanya komoditasnya yang berubah menjadi CNG.

“Infrastruktur LPG akan tetap termanfaatkan. Polanya mirip-mirip, cuma difungsikannya yang tadinya LPG sekarang CNG,” kata Laode.

Ia menegaskan, harga CNG nantinya harus setara dengan harga LPG 3 kilogram yang saat ini beredar di masyarakat. Hal tersebut penting untuk menjaga daya beli rumah tangga.

“Jadi memang ide awalnya itu harus sama-sama LPG 3 kilo, tidak boleh berbeda. Kalau berbeda ibu-ibunya merasa keberatan,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, CNG saat ini sudah dimanfaatkan di berbagai sektor seperti hotel, restoran, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). 

Pemerintah kini berencana memperluas penggunaannya ke sektor rumah tangga. 

Tonton: Dunia Tak Menentu, Prabowo Perkuat TNI Dengan Jet Tempur dan Misil!

Perbedaan CNG dan LPG 

CNG berbeda dengan LPG dari sisi komposisi, cara penyimpanan, hingga distribusi. CNG merupakan gas alam yang dikompresi pada tekanan tinggi sekitar 200–250 bar dan didominasi metana. 

Sementara LPG merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan lebih rendah. 

Kompas.com menyebut CNG lebih ringan dari udara sehingga cepat menyebar jika terjadi kebocoran. Sedangkan LPG yang lebih berat dari udara cenderung mengendap sehingga berpotensi meningkatkan risiko jika terjadi kebocoran di ruang tertutup.

Simulasi Dampak Program CNG terhadap Subsidi LPG

Komponen LPG (Saat Ini) CNG (Rencana Substitusi) Catatan
Sumber pasokan Banyak impor Gas domestik CNG berbasis produksi dalam negeri
Harga komoditas global Fluktuatif & cenderung mahal Lebih stabil Gas domestik lebih terkendali
Beban subsidi Tinggi Turun 30%-40% Klaim ESDM
Infrastruktur distribusi Sudah terbentuk Perlu investasi Tapi bisa memanfaatkan pola LPG
Tabung Relatif murah Lebih mahal Material tabung CNG khusus
Target harga ke masyarakat LPG 3 kg Setara LPG 3 kg Untuk menjaga daya beli
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News