KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika pergerakan mata uang kawasan Asia menunjukkan pola pemulihan yang beragam di tengah tren melandainya Indeks Dolar AS (DXY) di bawah level psikologis 100. Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (18/8), indeks DXY bertengger di level 99,629, sementara nilai tukar valas Asia bergerak bervariasi. USD/JPY berada di level 159,638 dan USD/IDR di level Rp 17.870,2, sedangkan USD/CNY tercatat di 6,74599, USD/KRW di 1.412,88, dan USD/SGD di 1,27795. Pelemahan Indeks Dolar AS yang telah terkoreksi sekitar 1,3% dalam sebulan terakhir belum dinikmati secara merata oleh seluruh mata uang di kawasan Asia.
Baca Juga: Risiko Gagal Bayar, Pefindo Pangkas Rating ADHI Jadi idB dengan CreditWatch Negatif Melandainya DXY terutama dipicu oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah rilis data inflasi AS yang cenderung melunak. Namun, dampak penurunan dolar AS ini diserap secara berbeda tergantung pada fundamental domestik masing-masing negara. Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai bahwa pasar saat ini tidak lagi memandang pelemahan dolar AS secara seragam. Divergensi yang terjadi menunjukkan bahwa DXY di bawah level 100 tidak otomatis membuat seluruh valas Asia menguat tajam, karena pelaku pasar mulai lebih selektif mencermati struktur ekonomi regional. Di satu sisi, yen Jepang masih berada dalam tekanan akibat lebar selisih suku bunga (
interest-rate differential) antara AS dan Jepang yang menjaga daya tarik aktivitas
carry trade, sehingga efek intervensi moneter mulai mereda. Sementara itu, rupiah masih dibayangi persoalan struktural seperti sensitivitas terhadap harga minyak, arus modal asing, kondisi fiskal, serta kredibilitas kebijakan domestik. Di sisi lain, melandainya harga minyak dunia memberikan angin segar bagi negara importir energi seperti Korea Selatan, sehingga memicu pembalikan arah sentimen investor menjadi lebih bullish terhadap won. Dalam memetakan peluang investasi valas regional, kombinasi antara Yuan Tiongkok (CNY) dan Dolar Singapura (SGD) menjadi pilihan yang paling prospektif dan solid untuk dicermati. Yuan Tiongkok menunjukkan tren apresiasi bertahap hingga menguat sekitar 6% secara tahunan terhadap dolar AS berkat topangan kebijakan Bank Sentral Tiongkok (PBoC). Di saat yang sama, dolar Singapura berfungsi sebagai instrumen defensif utama berkat kestabilan makroekonomi yang berpotensi mengungguli mata uang regional lainnya sepanjang 2026. Bagi pelaku pasar yang mencari peluang lebih agresif, Won Korea Selatan (KRW) menawarkan potensi imbal hasil (capital gain) yang menarik. Kinerja KRW sangat berpeluang terakselerasi seiring dengan melandainya harga minyak dunia dan membaiknya sentimen risiko global, meski investor tetap perlu mewaspadai tingginya sensitivitas mata uang ini terhadap siklus perdagangan dunia dan sektor teknologi. Sementara untuk yen Jepang, sikap
wait and see masih menjadi langkah paling rasional. Walaupun nilai tukar yen tergolong murah, tren penguatan jangka panjangnya masih tertahan selama fundamental suku bunga belum mengalami perubahan signifikan. Memasuki paruh kedua hingga akhir tahun 2026, prospek pergerakan valas Asia akan sangat ditentukan oleh daya tahan fundamental domestik masing-masing negara. Mata uang yang memiliki katalis internal yang kuat diproyeksikan mampu menjaga tren penguatannya terhadap dolar AS. "CNY dan SGD memiliki fundamental yang cukup menarik, KRW menawarkan peluang lebih agresif, sementara JPY dan rupiah masih membutuhkan perubahan fundamental yang lebih kuat agar penguatannya bisa berkelanjutan," ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Meski demikian, potensi penguatan valas Asia tetap dibayangi oleh risiko volatilitas eksternal. Apabila data ekonomi AS kembali membaik dan memicu kebangkitan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, Indeks Dolar AS berpotensi mengalami rebound mendadak yang dapat menekan kembali mata uang regional. Guna mengoptimalkan portofolio di pasar valas Asia, investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada pergerakan Indeks Dolar AS semata. Terdapat sejumlah indikator kunci yang wajib dipantau, mulai dari selisih suku bunga antarnegara, pergerakan harga minyak dunia, arah kebijakan moneter bank sentral kawasan, arus modal asing (
capital flow), hingga kondisi fiskal domestik. Melihat beragamnya dinamika tersebut, Brahmantya merekomendasikan agar pelaku pasar menerapkan strategi investasi yang lebih selektif daripada membeli seluruh mata uang Asia secara bersamaan hanya karena faktor pelemahan dolar AS.
"Strateginya juga sebaiknya lebih selektif daripada membeli seluruh mata uang Asia hanya karena dolar sedang melemah. Saya lebih memilih mata uang yang memiliki katalis domestik sendiri," kata Brahmantya. Selain itu, investor juga diimbau untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru mengejar mata uang yang telah mengalami kenaikan terlalu cepat, guna mengantisipasi risiko pembalikan arah pasar jika DXY kembali menguat secara mendadak.
Baca Juga: Indeks Dolar AS di Bawah 100, Simak Prospek Mata Uang Asia hingga Akhir 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News