KONTAN.CO.ID - Coca-Cola Co pada Selasa (28/4/2026) menaikkan proyeksi laba tahunannya setelah mencatat kinerja kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar, di tengah tekanan biaya global akibat lonjakan harga energi dan dampak konflik di Timur Tengah. Kinerja positif ini membuat saham Coca-Cola naik sekitar 5% dalam perdagangan, sekaligus menjadi laporan kinerja pertama di bawah kepemimpinan CEO baru Henrique Braun yang menggantikan James Quincey.
Baca Juga: Superyacht Miliarder Rusia Lolos Lewati Selat Hormuz di Tengah Blokade Iran–AS Melansir
Reuters, perusahaan minuman asal Atlanta, Amerika Serikat itu kini memperkirakan pertumbuhan laba per saham (EPS) tahunan secara organik sebesar 8%–9%, naik dari proyeksi sebelumnya 7%–8%. Coca-Cola juga mencatat pendapatan kuartalan sebesar US$12,47 miliar, melampaui estimasi analis sebesar US$12,24 miliar berdasarkan data LSEG. Laba per saham yang disesuaikan tercatat 86 sen, juga lebih tinggi dari perkiraan 81 sen. Meski demikian, perusahaan mengakui adanya tekanan biaya dari kenaikan harga energi global, khususnya pada bahan kemasan seperti resin PET dan aluminium, yang terdampak ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. “Banyak konsumen tetap tangguh, tetapi sebagian berada di bawah tekanan akibat inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian makroekonomi, dan volatilitas yang dipicu konflik di Timur Tengah,” ujar CEO Henrique Braun dalam konferensi pasca-laporan kinerja.
Baca Juga: Trump: Iran Berada dalam “Kondisi Kolaps”, Negosiasi Damai Kembali Buntu Coca-Cola menyebut telah melakukan lindung nilai (hedging) terhadap sejumlah komoditas, sehingga berhasil mengamankan harga yang lebih rendah sebelum gangguan pasokan terbaru terjadi. CFO John Murphy menambahkan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah menjaga ketersediaan produk di berbagai format kemasan, meskipun tekanan biaya tetap menjadi tantangan. “Prioritas nomor satu adalah memastikan pasokan tersedia di semua format kemasan,” ujar Murphy. Ia juga menyebut perusahaan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan kenaikan harga, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan daya beli konsumen. Selain itu, Coca-Cola menghadapi gangguan pasokan kaleng aluminium di India yang berdampak pada distribusi Diet Coke, akibat keterlambatan pengiriman dari kawasan Teluk. Meski demikian, perusahaan menilai dampak biaya secara keseluruhan masih dapat dikelola. Pada kuartal pertama, volume penjualan tumbuh 3% di seluruh wilayah, lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga rata-rata sebesar 2%.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Hampir 4 Pekan, Pasar Cemas Inflasi dan The Fed Coca-Cola juga terus berinvestasi pada produk minuman rendah gula, air kemasan, dan produk premium untuk menyesuaikan perubahan preferensi konsumen global. Analis JP Morgan menilai, Coca-Cola relatif lebih tahan terhadap tekanan inflasi dibandingkan perusahaan barang konsumsi lainnya, berkat strategi portofolio dan fleksibilitas harga yang kuat. Sebagai pembanding, pesaingnya PepsiCo juga baru-baru ini melaporkan kinerja di atas ekspektasi, didukung permintaan stabil untuk produk minuman rendah kalori dan strategi penyesuaian harga pada produk makanan ringan.