CoF Masih Jadi Beban, Perbankan Sulit Turunkan Bunga Kredit



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) beberapa kali, terakhir ke level 4,75%, suku bunga kredit perbankan belum juga ikut turun. Penyebabnya, biaya dana atau cost of fund (CoF) perbankan masih relatif tinggi dan cenderung turun secara terbatas.

Jika dilihat, PT Bank Mandiri misalnya, pada 2025 lalu CoF berada di level 2,33%. Ini terlihat masih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya di level 2,16%. Kemudian, PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang biaya dananya berada di level 2,73% pada 2025. Ini masih lebih tinggi dibandingkan 2024 di level 2,69%.

Adapun biaya dana PT Bank Rakyat Indonesia berada di level 2,9% pada 2025 lalu turun 10 basis poin dari 3% pada 2024.


Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai, kondisi tersebut terjadi karena adanya jeda waktu (lag) antara penurunan suku bunga acuan dengan penyesuaian bunga perbankan.

Baca Juga: Perbankan Proyeksikan Biaya Dana Terus Terjaga pada 2026

Menurutnya, penurunan suku bunga biasanya baru terasa dalam rentang waktu 6–12 bulan, seiring dengan jatuh tempo deposito yang sebelumnya masih berbunga tinggi.

“Bank harus menyesuaikan dulu struktur deposito mereka. Jadi memang ada lag sebelum bunga kredit ikut turun,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (13/4/2026).

Selain itu, faktor risiko ekonomi juga turut menahan penurunan biaya dana. Ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik, serta lemahnya daya beli masyarakat membuat risiko kredit meningkat, khususnya di segmen UMKM.

“Risiko gagal bayar meningkat, sehingga biaya dana tetap tinggi karena bank harus memasukkan premi risiko dalam penentuan bunga,” jelasnya.

Ia memperkirakan, tren tersebut masih akan berlanjut sepanjang 2026. Apalagi, kondisi global yang belum stabil dan perputaran ekonomi domestik yang belum pulih sepenuhnya membuat tekanan terhadap cost of fund belum mereda.

Di sisi perbankan, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan menyebut, biaya dana sebenarnya mulai menunjukkan tren penurunan, baik secara year to date (ytd) maupun tahunan (yoy). Namun, penurunannya mulai melambat memasuki kuartal II-2026.

“Ke depan, arah CoF akan sangat tergantung pada kondisi likuiditas dan pergerakan instrumen pasar seperti obligasi,” ujarnya.

Jika dilihat pada 2025 lalu, biaya dana CIMB Niaga berada di level 3,28%, menurun dari posisi 2024 di level 3,58%.

Sementara, Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah mengatakan, tingginya CoF saat ini masih dipengaruhi efek lag penurunan suku bunga. Selain itu, kompetisi penghimpunan dana yang ketat membuat bank belum bisa menurunkan biaya dana secara agresif.

Baca Juga: Penurunan Bunga Kredit Bank Masih Tertahan Biaya Dana

“CoF berpotensi turun bertahap tahun ini seiring repricing dana. Ini akan mendukung perbaikan net interest income (NII), meski peningkatannya gradual,” ujarnya.

Adapun strategi yang dilakukan bank antara lain memperbesar dana murah (CASA), melakukan repricing dana secara selektif, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan margin.

Di sisi lain, Direktur Utama BTN, Nixon L. P. Napitupulu menegaskan bahwa suku bunga acuan hanya menjadi benchmark. Penentuan bunga kredit tetap sangat bergantung pada struktur pendanaan masing-masing bank.

Ia mengungkapkan, biaya dana BTN telah mengalami penurunan dari sekitar 3,9% pada tahun lalu menjadi 3,1% per Februari 2026.

“Dengan penurunan itu, kami mulai menyesuaikan bunga, khususnya untuk skema floating rate,” ujarnya.

Namun demikian, untuk bunga awal KPR, BTN masih menawarkan suku bunga kompetitif sekitar 2,65% untuk tiga tahun pertama. Ke depan, pergerakan bunga tetap akan dipengaruhi kondisi global.

BTN memperkirakan biaya dana tahun ini akan berada di kisaran 2,9% hingga 3,4%.

Baca Juga: Perbankan Siapkan Strategi Menjaring Dana Murah di Tengah Tren Kenaikan Biaya Dana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: