KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) menegaskan dukungan penuh terhadap langkah strategis anak usahanya, Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX), yang melakukan penyesuaian struktur biaya transaksi. Langkah ini dinilai selaras dengan visi jangka panjang COIN untuk memperbesar pangsa pasar melalui peningkatan volume transaksi dan pendalaman likuiditas pasar Untuk diketahui, berdasarkan riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), tantangan utama industri aset kripto domestik saat ini adalah menciptakan likuiditas yang dalam dan biaya transaksi yang kompetitif agar mampu bersaing dengan pasar global.
Riset itu juga menyoroti sensitivitas pengguna terhadap biaya transaksi di mana sekitar 54,5% pengguna platform menyatakan akan berpindah platform jika biaya transaksi dinilai mahal.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,23% ke Rp 16.880 per Dolar AS, Jumat (6/2) Siang Data ini mengindikasikan besarnya potensi capital outflow dan adanya ruang yang perlu dioptimalkan untuk meningkatkan daya saing industri aset kripto nasional. Merespons hal tersebut, PT Central Finansial X (CFX) selaku bursa aset kripto berizin akan menurunkan biaya transaksi bursa dari 0,04% menjadi 0,02% pada 1 Maret 2026. Kemudian akan diikuti penurunan selanjutnya menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026 COIN pun turut mendukung penuh keputusan tersebut demi terciptanya struktur biaya yang lebih efisien bagi pengguna. Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Ade Wahyu menjelaskan, penyesuaian struktur biaya secara terukur adalah upaya untuk memastikan keberlangsungan jangka panjang industri aset kripto. "Biaya yang lebih kompetitif akan menarik kembali konsumen lokal untuk bertransaksi di dalam negeri dan pada akhirnya dapat memperbesar pangsa pasar,” jelas Ade dalam keterangannya, Rabu (5/2/2026). Lebih lanjut, Ade meyakini perubahan ini akan menciptakan multiplier effect positif. Ketika ekosistem menjadi lebih efisien dan menarik bagi konsumen, frekuensi dan volume transaksi diproyeksikan akan mengalami kenaikan signifikan yang pada akhirnya mengkompensasi penyesuaian tersebut. Di sisi lain, langkah ini juga memacu COIN untuk terus menggali dan menciptakan berbagai potensi sumber pendapatan baru di masa depan. Seiring dengan upaya memperluas sumber pendapatan tersebut, COIN terus mendorong pengembangan inovasi produk, baik yang sudah ada maupun produk baru sebagai langkah diversifikasi. Ade menyebut, Bursa Kripto CFX akan fokus mengembangkan produk derivatif kripto untuk memperbesar volume transaksi dan memperdalam likuiditas pasar. Sementara untuk produk baru, ia juga menyoroti potensi besar pada produk-produk aset kripto baru yang dapat menjadi gelombang inovasi berikutnya di industri.
Baca Juga: Di Tengah Krisis Emas Digital China, Bappebti - ICDX Tegaskan Pasar RI Terkendal Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat mayoritas pelaku usaha kripto di Indonesia masih belum mencetak keuntungan. Hingga akhir 2025, sekitar 72% Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) tercatat mengalami kerugian, meski jumlah pengguna kripto nasional terus meningkat. Data OJK menunjukkan, nilai transaksi aset kripto sepanjang 2025 hanya mencapai Rp 482,23 triliun, turun signifikan dibandingkan Rp 650 triliun pada 2024. Padahal, jumlah pengguna kripto di Indonesia sudah menembus lebih dari 20 juta akun.
OJK menilai kondisi ini dipicu oleh belum optimalnya aktivitas transaksi di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News