KONTAN.CO.ID - Bursa aset kripto Coinbase Global kembali membukukan kerugian pada kuartal II 2026, menjadi kerugian kuartalan ketiga berturut-turut. Mengutip
Reuters, kinerja yang mengecewakan tersebut membuat saham Coinbase turun sekitar 5,3% pada perdagangan setelah penutupan bursa (
after-hours).
Data menunjukkan bahwa pelemahan pasar kripto sepanjang April hingga Juni 2026 menjadi salah satu penyebab utama penurunan kinerja Coinbase. Para analis pun melihat bahwa investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS, ketegangan geopolitik, serta tren penarikan dana investasi kripto yang makin kuat.
Baca Juga: Uni Eropa Jatuhkan Sanksi terhadap Bursa Kripto HTX, Diduga Bantu Rusia Pendapatan Trading Kripto Turun 21%
Coinbase pada Kamis (30/7) melaporkan pendapatan transaksi (
transaction revenue) sebesar US$599 juta, turun 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$764 juta. Analis
Third Bridge, Jacob Zuller, menilai musim lesu pasar kripto atau
crypto winter masih memberikan tekanan besar terhadap bisnis Coinbase. "Musim dingin kripto yang panjang dan berjalan lambat masih terus menekan Coinbase. Kejelasan regulasi juga belum datang secepat yang diharapkan," ujarnya, dikutip
Reuters. Menurut Zuller, produk seperti
tokenized equities maupun
perpetual futures sebenarnya berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Namun, Coinbase dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah pesaing dalam mengembangkan kedua layanan tersebut.
Baca Juga: Tren Baru: Stablecoin Jadi Andalan Kelompok Kriminal Coinbase Menanti RUU Clarity Act Disahkan
Coinbase masih menaruh harapan pada
Clarity Act, rancangan undang-undang yang diharapkan dapat memberikan kepastian regulasi bagi industri aset digital di AS. RUU tersebut pertama kali diperkenalkan pada Mei tahun lalu. Pekan lalu, Partai Republik di Senat merilis versi terbaru menjelang masa reses Kongres pada Agustus. CEO Coinbase Brian Armstrong mengaku optimistis proses legislasi akan terus berlanjut. Ia menambahkan bahwa negosiasi intensif yang masih berlangsung menunjukkan banyak pihak memiliki komitmen agar regulasi tersebut dapat segera disahkan. "Saya cukup optimistis RUU ini akan dibawa ke pemungutan suara di sidang penuh Senat," kata Armstrong.
Secara keseluruhan, Coinbase membukukan rugi bersih US$359,5 juta, atau sekitar Rp6,49 triliun. Pendapatan dari unit
subscription and services, yang mencakup bisnis di luar aktivitas
trading, juga turun 12,2% menjadi US$555,1 juta. Kerugian tersebut setara US$1,36 per saham, berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya ketika Coinbase masih mencatat laba US$1,43 miliar, atau sekitar Rp25,81 triliun, dengan laba US$5,14 per saham.
Baca Juga: Pakistan Dorong Regulasi Kripto Berbasis Syariah, Fokus pada Aset Riil