ConocoPhillips Ganti CEO di Tengah Lonjakan Laba Terbesar Sejak 2022



KONTAN.CO.ID -  HOUSTON. Produsen minyak dan gas asal Amerika Serikat (AS) ConocoPhillips, mengumumkan pergantian pucuk kepemimpinan di tengah kinerja keuangan yang melonjak tajam.

Ryan Lance akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) setelah memimpin perusahaan selama 14 tahun, sementara Chief Financial Officer (CFO) Andy O'Brien ditunjuk sebagai CEO baru mulai 1 September 2026.

Pergantian kepemimpinan ini berlangsung ketika ConocoPhillips membukukan laba kuartalan terbaik sejak 2022, didorong oleh lonjakan harga minyak dunia.


Perusahaan juga mencatat pendapatan yang melampaui ekspektasi analis, memperkuat posisi ConocoPhillips sebagai produsen minyak dan gas independen terbesar di Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: ConocoPhillips Rampungkan Penjualan Aset US$ 1,7 Miliar, Lampaui Target Lebih Cepat

Andy O'Brien akan melanjutkan strategi perusahaan yang telah dibangun selama ini.

Ryan Lance tidak sepenuhnya meninggalkan perusahaan. Setelah melepas jabatan CEO, ia akan menjabat sebagai Executive Chair.

ementara itu, posisi CFO akan diisi Konnie Haynes-Welsh, yang saat ini menjabat Vice President Finance and Controller.

Pergantian ini menandai berakhirnya era kepemimpinan Lance yang dimulai pada 2012, setelah ConocoPhillips memisahkan bisnis pengilangan menjadi Phillips 66 dan bertransformasi menjadi perusahaan eksplorasi dan produksi migas murni.

Di bawah kepemimpinannya, ConocoPhillips berkembang menjadi salah satu produsen minyak dan gas independen terbesar di dunia dengan operasi yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, Asia Pasifik, hingga Timur Tengah.

Lance juga memimpin berbagai langkah strategis, mulai dari pelepasan aset non-inti setelah anjloknya harga minyak pada 2014 hingga ekspansi agresif melalui serangkaian akuisisi bernilai miliaran dolar.

Dalam beberapa tahun terakhir, ConocoPhillips mengakuisisi Concho Resources senilai US$9,7 miliar, Marathon Oil senilai US$22,5 miliar, serta aset Permian milik Shell senilai US$9,5 miliar.

Baca Juga: Raksasa Migas AS ConocoPhillips Kembali ke Suriah Pasca-Assad Tumbang

Namun, ekspansi besar tersebut juga diikuti restrukturisasi perusahaan yang berujung pada pemangkasan sekitar 20%-25% tenaga kerja pada September 2025 demi meningkatkan daya saing.

Andy O'Brien bukan sosok baru di ConocoPhillips. Bergabung sejak 1997, ia telah menduduki berbagai posisi strategis di bidang keuangan, perencanaan, strategi, bisnis internasional, LNG, hingga merger dan akuisisi. Ia juga pernah memimpin operasi perusahaan di Alaska.

Pelaku pasar menilai pergantian CEO ini tidak akan mengubah arah strategi perusahaan secara signifikan.

Fokus perusahaan diperkirakan tetap pada pengembangan portofolio aset migas, termasuk akuisisi 42% kepemilikan pada proyek ladang minyak Kirkuk di Irak utara dan rencana kembali beroperasi di Suriah.

Di sisi kinerja, ConocoPhillips mencatat laba bersih disesuaikan sebesar US$3,24 per saham pada kuartal II 2026 yang berakhir 30 Juni. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi analis sebesar US$ 2,88 per saham.

Pendapatan perusahaan melonjak 32,4% secara tahunan menjadi US$19,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan estimasi pasar sebesar US$18,8 miliar.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Berhati-hati Terhadap Kemajuan Pembicaraan Iran-Oman

Meski produksi turun hampir 6% menjadi 2,25 juta barel setara minyak per hari (barrel of oil equivalent per day/boepd), harga jual rata-rata yang direalisasikan naik 36% menjadi US$62,33 per barel setara minyak.

Kenaikan harga minyak berhasil mengimbangi penurunan volume produksi dan menjadi pendorong utama lonjakan laba perusahaan.

Kinerja tersebut sejalan dengan tren yang juga dialami sejumlah perusahaan energi besar seperti Chevron, Exxon Mobil, Occidental Petroleum, dan Diamondback Energy, yang sama-sama membukukan laba tertinggi dalam beberapa tahun terakhir berkat reli harga minyak.

Harga minyak Brent sepanjang April-Juni rata-rata mencapai sekitar US$93,58 per barel, naik lebih dari 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan itu dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama perang Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global meski juga menyebabkan gangguan operasional bagi sejumlah perusahaan energi di kawasan tersebut.

Untuk kuartal III 2026, ConocoPhillips memperkirakan produksi berada di kisaran 2,29 juta hingga 2,32 juta barel setara minyak per hari.