COO FIFA Kevin Lamour Pergi Usai Kritik Rencana Gianni Infantino



​KONTAN.CO.ID - Kevin Lamour meninggalkan jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO) FIFA, hanya beberapa pekan setelah secara terbuka mengkritik rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta.

FIFA mengonfirmasi kepergian Lamour melalui pernyataan kepada sejumlah media. FIFA menyebut hubungan kerja dengan Lamour sebagai COO resmi berakhir pada 17 Agustus 2026.

Baca Juga: Popularitas Trump Turun, Hanya 33% Warga AS yang Mendukung


"FIFA berterima kasih kepada Kevin atas dua tahun masa baktinya dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Tidak ada komentar lebih lanjut mengenai masalah ini," kata FIFA dilansir dari Reuters Selasa (18/8/2026).

Tidak banyak informasi mengenai alasan kepergian Lamour. The Guardian menyebut Lamour dipecat, sementara Press Association Inggris menyebutnya sebagai pemberhentian.

Sejumlah laporan menyebut staf FIFA mengetahui kepergian Lamour melalui email yang dikirim Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom.

Kritik Terhadap Rencana Infantino

Lamour merupakan salah satu pejabat senior sepak bola dunia yang secara terbuka menentang rencana Infantino melibatkan perusahaan ekuitas swasta dalam pengelolaan komersial Piala Dunia.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Selasa (18/8), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Dalam wawancara dengan Associated Press pada Juli lalu, Lamour menyebut rencana tersebut sebagai "proyek satu orang".

Ia mengatakan dirinya dan sejumlah staf FIFA merasa telah ditipu terkait rencana tersebut.

"Proyek ini tidak boleh dilanjutkan... waktunya telah tiba bagi para pemimpin politik sepak bola untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat," ujar Lamour saat itu.

Lamour juga mengisyaratkan bahwa sikapnya tersebut dapat membahayakan posisinya di FIFA.

"Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak malam ini," katanya.

Lamour merupakan warga negara Prancis dan Swiss. Ia bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa.

Baca Juga: Saudi Aramco Tawarkan Minyak Mentah di Luar Selat Hormuz ke Pembeli Asia

Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

Tak lama setelah Piala Dunia 2026 berakhir, Infantino mengumumkan rencana untuk mengonsolidasikan hak komersial Piala Dunia, termasuk hak siar, sponsorship, tiket dan lisensi, ke dalam sebuah perusahaan komersial baru.

Infantino kemudian berencana menjual sebagian saham perusahaan tersebut kepada investor ekuitas swasta.

Ia memperkirakan langkah tersebut dapat menghasilkan dana miliaran dolar yang kemudian diinvestasikan kembali ke pengembangan sepak bola.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir, Pasar Global Dibayangi Risiko Perang

Namun, rencana tersebut mendapat penolakan luas karena dinilai dapat memberikan kepemilikan minoritas atas turnamen sepak bola terbesar di dunia kepada investor swasta dengan kepentingan komersial mereka sendiri.

UEFA, CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara bulat menentang rencana tersebut.

UEFA bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya jika rencana tersebut benar-benar dijalankan.

Carlos Cordeiro, mantan Presiden U.S. Soccer periode 2018-2020, juga mengundurkan diri sebagai penasihat senior Infantino pada hari ketika FIFA akhirnya mundur dari gagasan tersebut.

"Jika asosiasi anggota menilai investasi tambahan diperlukan untuk mengembangkan sepak bola, FIFA sudah memiliki kapasitas keuangan untuk memberikan dukungan tersebut dari sumber daya yang ada," ujar Cordeiro.

Menurutnya, menjual kepemilikan permanen atas aset paling berharga dalam sepak bola untuk mendapatkan US$4,2 miliar tidak masuk akal.

"Ini sama saja dengan menggadaikan masa depan sepak bola tanpa alasan yang kuat," katanya.

Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tiga Sesi Beruntun Selasa (18/8), Pasar Tunggu Risalah The Fed

Sementara itu, posisi Infantino sebagai orang nomor satu FIFA kini menghadapi ketidakpastian.

Asosiasi Sepak Bola Skotlandia menjadi organisasi terbaru yang menyatakan tidak akan mendukung Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA berikutnya.