KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memberikan tarif Bea Masuk 0% atas impor barang tertentu, dinilai mampu meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional. Insentif tersebut diperkirakan mampu menekan biaya produksi sekaligus mendorong aktivitas industri dan jasa pendukungnya. Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, kebijakan tersebut akan memberikan manfaat bagi industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) maupun industri petrokimia yang selama ini masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor. “Dari saya sendiri menilai kebijakan pemberian tarif bea masuk 0% untuk industri maintenance, repair, dan overhaul serta industri petrokimia semestinya bagus untuk mendorong industri terkait di dalam negeri,” ujar Faisal kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026). Menurutnya, manfaat kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan oleh industri manufaktur, tetapi juga jasa pendukung industri, khususnya sektor MRO yang berperan dalam aktivitas perawatan dan perbaikan berbagai peralatan industri, termasuk pesawat terbang. “Nah yang akan berkembang bukan hanya industrinya, tetapi juga jasa industrinya. Jadi maintenance, repair, dan overhaul merupakan jasa pendukung industri yang akan menciptakan multiplier effect lebih luas,” jelasnya. Baca Juga: CELIOS: Bea Masuk 0% Untungkan Industri MRO, Efek ke Petrokimia Masih Terbatas Faisal menilai, penghapusan bea masuk atas komponen dan bahan baku impor akan membantu menurunkan biaya produksi sehingga produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif. “Dengan begitu biaya produksi bisa ditekan dan otomatis meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Produknya menjadi lebih kompetitif sehingga diharapkan juga mampu mendorong investasi dan ekspansi industri,” katanya. Selain itu, kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat integrasi industri nasional ke dalam rantai pasok global. Meski demikian, Faisal mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi sektor manufaktur. Menurutnya, biaya produksi masih tertekan oleh kenaikan harga energi, biaya logistik, hingga harga bahan baku. Baca Juga: Bea Masuk 0% LPG Buka Peluang Utilisasi Industri Plastik Tembus 90% “Walaupun bea masuk diturunkan, ketika komponen biaya produksi lainnya meningkat, tekanannya tetap relatif tinggi. Namun kondisinya tentu lebih baik dibandingkan apabila tarif bea masuk juga masih tinggi,” ujarnya. Ia memperkirakan kebijakan tersebut dapat menopang kinerja industri manufaktur pada paruh kedua tahun ini. “Semestinya bisa mendorong kinerja sektor manufaktur pada semester kedua. Harapannya paling tidak mampu bertahan tumbuh di kisaran 5%,” pungkas Faisal. Meski begitu, ia menilai tantangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih cukup besar, sehingga mampu mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melampaui 5% pada tahun ini masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
CORE: Bea Masuk 0% Dinilai Dapat Dongkrak Daya Saing Industri Manufaktur
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memberikan tarif Bea Masuk 0% atas impor barang tertentu, dinilai mampu meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional. Insentif tersebut diperkirakan mampu menekan biaya produksi sekaligus mendorong aktivitas industri dan jasa pendukungnya. Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, kebijakan tersebut akan memberikan manfaat bagi industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) maupun industri petrokimia yang selama ini masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor. “Dari saya sendiri menilai kebijakan pemberian tarif bea masuk 0% untuk industri maintenance, repair, dan overhaul serta industri petrokimia semestinya bagus untuk mendorong industri terkait di dalam negeri,” ujar Faisal kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026). Menurutnya, manfaat kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan oleh industri manufaktur, tetapi juga jasa pendukung industri, khususnya sektor MRO yang berperan dalam aktivitas perawatan dan perbaikan berbagai peralatan industri, termasuk pesawat terbang. “Nah yang akan berkembang bukan hanya industrinya, tetapi juga jasa industrinya. Jadi maintenance, repair, dan overhaul merupakan jasa pendukung industri yang akan menciptakan multiplier effect lebih luas,” jelasnya. Baca Juga: CELIOS: Bea Masuk 0% Untungkan Industri MRO, Efek ke Petrokimia Masih Terbatas Faisal menilai, penghapusan bea masuk atas komponen dan bahan baku impor akan membantu menurunkan biaya produksi sehingga produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif. “Dengan begitu biaya produksi bisa ditekan dan otomatis meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Produknya menjadi lebih kompetitif sehingga diharapkan juga mampu mendorong investasi dan ekspansi industri,” katanya. Selain itu, kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat integrasi industri nasional ke dalam rantai pasok global. Meski demikian, Faisal mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi sektor manufaktur. Menurutnya, biaya produksi masih tertekan oleh kenaikan harga energi, biaya logistik, hingga harga bahan baku. Baca Juga: Bea Masuk 0% LPG Buka Peluang Utilisasi Industri Plastik Tembus 90% “Walaupun bea masuk diturunkan, ketika komponen biaya produksi lainnya meningkat, tekanannya tetap relatif tinggi. Namun kondisinya tentu lebih baik dibandingkan apabila tarif bea masuk juga masih tinggi,” ujarnya. Ia memperkirakan kebijakan tersebut dapat menopang kinerja industri manufaktur pada paruh kedua tahun ini. “Semestinya bisa mendorong kinerja sektor manufaktur pada semester kedua. Harapannya paling tidak mampu bertahan tumbuh di kisaran 5%,” pungkas Faisal. Meski begitu, ia menilai tantangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih cukup besar, sehingga mampu mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melampaui 5% pada tahun ini masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
TAG: