KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa investor asal China cenderung lebih agresif dan berani mengambil risiko dibanding investor Jepang dalam menanamkan modal di Indonesia. Menurut Yusuf, karakter investasi China berbeda karena banyak perusahaan yang masuk ke Indonesia tidak sepenuhnya bergerak sebagai korporasi swasta biasa. Di belakang mereka terdapat dukungan kebijakan industri hingga pembiayaan dari negara asalnya. “Ketika mereka berani masuk ke proyek yang regulasinya belum terlalu matang atau situasinya masih penuh ketidakpastian, itu bukan karena mereka asal ambil risiko, tapi karena risiko itu ditanggung bersama,” ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (27/5).
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp 17.800 per Dollar AS, Menkeu Purbaya: “Ya Saya Stres” Ia menjelaskan, investor Jepang umumnya lebih konservatif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Jepang, kata dia, cenderung menuntut kepastian hukum, studi kelayakan detail, hingga kontrak proyek yang matang sebelum masuk ke suatu proyek. “Prosesnya memang lebih lambat, tapi mereka cenderung menjaga stabilitas investasi dalam jangka panjang,” katanya. Yusuf mencontohkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang menunjukkan perbedaan pendekatan antara investor China dan Jepang. Menurut dia, China saat itu datang dengan skema pembiayaan yang lebih fleksibel sehingga proyek dapat lebih cepat berjalan. Sementara Jepang menawarkan pendekatan yang lebih konservatif dengan syarat jaminan proyek yang lebih ketat. “Konsekuensinya memang kita lihat kemudian, biaya proyek membengkak dan banyak penyesuaian di tengah jalan,” ujarnya. Yusuf mengatakan, salah satu alasan utama investor China masih agresif masuk ke Indonesia ialah posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan baterai global. Ia menilai hilirisasi sumber daya alam, terutama nikel, menjadi magnet utama bagi investasi China saat ini. “China sedang membangun rantai industri kendaraan listrik dan baterai dalam skala global. Indonesia punya cadangan nikel yang sangat besar, jadi posisi kita penting sekali buat mereka,” katanya. Karena itu, investasi China kini banyak mengalir ke proyek smelter, pengolahan mineral, hingga industri baterai. Berbeda dengan Jepang yang lebih nyaman masuk ke industri matang seperti otomotif konvensional dan manufaktur presisi, China dinilai lebih cepat masuk ke sektor baru yang regulasinya masih berkembang. Menurut Yusuf, pola investasi China sebenarnya menguntungkan bagi Indonesia karena dapat mempercepat industrialisasi nasional. “Dulu kita cuma ekspor bijih mentah, sekarang mulai punya industri pengolahan sendiri. Itu perubahan besar,” ujarnya. Meski begitu, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu memperketat pengawasan agar investasi yang masuk benar-benar memberi dampak jangka panjang terhadap industri nasional. Yusuf menilai percepatan investasi kerap membuat kualitas pengawasan tertinggal, mulai dari persoalan transfer teknologi, kualitas tenaga kerja lokal, hingga isu lingkungan di kawasan industri smelter. “Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah memastikan investasi yang masuk benar-benar memperkuat kapasitas industri nasional,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia perlu memanfaatkan kecepatan modal dari China sambil tetap disiplin dalam mendorong transfer teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan standar lingkungan. “Jadi kita bukan cuma jadi pasar atau lokasi produksi murah, tapi benar-benar naik kelas sebagai negara industri,” tutup Yusuf.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Jangka Pendek BI Meningkat, Waspadai Risiko Outflow Asing Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News