KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembentukan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia dinilai perlu kejelasan tata kelola dan batas kewenangan agar tidak memicu kerumitan birokrasi bagi para pelaku usaha. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, agenda hilirisasi dan transisi energi memerlukan kebutuhan investasi yang terbilang sangat fantastis. Nilai investasi tersebut diperkirakan dapat mencapai US$ 618 miliar untuk menggarap lebih dari 20 komoditas unggulan di dalam negeri. "Menko yang sekaligus menjabat sebagai menteri teknis pada dasarnya akan mengoordinasikan kementeriannya sendiri. Kondisi ini berisiko mengurangi netralitas fungsi koordinasi dan membuat kebijakan lebih berorientasi pada kepentingan sektor energi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (2/10/2026).
CORE: Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi Perlu Perjelas Kewenangan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembentukan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia dinilai perlu kejelasan tata kelola dan batas kewenangan agar tidak memicu kerumitan birokrasi bagi para pelaku usaha. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, agenda hilirisasi dan transisi energi memerlukan kebutuhan investasi yang terbilang sangat fantastis. Nilai investasi tersebut diperkirakan dapat mencapai US$ 618 miliar untuk menggarap lebih dari 20 komoditas unggulan di dalam negeri. "Menko yang sekaligus menjabat sebagai menteri teknis pada dasarnya akan mengoordinasikan kementeriannya sendiri. Kondisi ini berisiko mengurangi netralitas fungsi koordinasi dan membuat kebijakan lebih berorientasi pada kepentingan sektor energi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (2/10/2026).