KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Investment Authority (INA) melaporkan dana kelolaan (
assets under management/AUM) mencapai Rp 146,2 triliun hingga akhir 2025 atau meningkat 1,9 kali dibandingkan saat mulai beroperasi pada 2021. Dalam lima tahun terakhir, sovereign wealth fund Indonesia itu bersama para mitra investasinya juga telah merealisasikan investasi senilai Rp 74,5 triliun dan mengantongi komitmen investasi sekitar US$ 25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara. Menanggapi capaian tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kinerja INA secara umum menunjukkan perkembangan positif.
Namun, ia mengingatkan pemerintah perlu memperjelas pembagian peran antara INA dan Danantara agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi investor. Menurut Yusuf, persoalan utama bukan terletak pada potensi perebutan investor antara kedua lembaga, melainkan kejelasan mandat masing-masing.
Baca Juga: INA Pastikan Tak Ada Informasi yang Ditutupi Terkait Pergantian Direksi "INA dibangun sebagai platform
co-investment untuk investor global, sedangkan Danantara berfokus pada pengelolaan aset strategis nasional. Kalau batas mandatnya tidak tegas, investor bisa melihat adanya tumpang tindih dan itu menciptakan ketidakpastian," ujarnya saat dihubungi Kontan, Rabu (1/7/2026). Ia menilai, jika pembagian peran dibuat tegas, kedua lembaga justru dapat saling melengkapi. INA tetap berperan menarik investor institusi global melalui skema
co-investment, sementara Danantara berfokus mengoptimalkan pengelolaan aset strategis nasional. Yusuf mengatakan, jika kembali pada tujuan pembentukannya pada 2020, ukuran keberhasilan INA tidak hanya dilihat dari besarnya dana kelolaan, tetapi juga kemampuannya mengungkit investasi dari mitra. "Kalau kita kembali ke tujuan awal pembentukannya pada 2020, INA tidak didirikan sekadar mengelola aset negara, tetapi menjadi katalis yang menarik modal asing melalui skema
co-investment. Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya bukan hanya besarnya aset kelolaan, melainkan juga kemampuan modal INA mengungkit investasi dari mitra," katanya. Baca Juga: Danantara & INA Tanam US$ 200 juta di Proyek CA-EDC US$ 800 Juta Milik Chandra Asri Ia mencatat, dari investasi kumulatif Rp 74,5 triliun, sekitar Rp 41,2 triliun berasal dari investor mitra. Artinya, setiap Rp 1 modal INA baru mampu menarik sekitar Rp 1,2 investasi tambahan. "Dari sisi ini capaiannya sudah positif. Fungsi katalis sudah berjalan, tetapi masih di bawah ambisi awal. Apalagi target awal aset kelolaan sekitar US$ 24,5 miliar, sementara saat ini masih di kisaran US$ 9 miliar hingga US$ 10 miliar," jelas Yusuf.
Meski begitu, ia mengapresiasi penguatan tata kelola INA. Menurutnya, peringkat BBB dari Fitch Ratings dan skor tata kelola yang berada di atas rata-rata
sovereign wealth fund global menunjukkan fondasi kelembagaan yang kuat. "Tantangan berikutnya adalah mengubah komitmen investasi menjadi realisasi yang lebih cepat," pungkas Yusuf.
Baca Juga: Danantara Siapkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia Jadi BUMN Baru Atur Ekspor SDA Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News