CORE Prediksi Manufaktur Pulih Bertahap, Waspadai Tekanan Daya Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan sektor manufaktur masih memiliki peluang tumbuh pada semester II-2026. Namun, pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap dan belum cukup kuat untuk menjadi titik balik bagi industri.

Pengamat CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, prospek manufaktur pada paruh kedua tahun ini lebih tepat disebut sebagai pemulihan yang tertahan dibandingkan pemulihan yang solid.

"Prospek manufaktur pada semester II 2026 arahnya lebih tepat disebut pemulihan yang tertahan, bukan titik balik yang kuat," ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (13/7/2026).


Baca Juga: Maskapai Vietjet Pekerjakan Hampir 10.000 Karyawan dari 68 Negara

Menurutnya, penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni perlu dicermati lebih dalam, bukan sekadar melihat angka indeks yang kembali masuk ke zona kontraksi.

Yusuf menjelaskan, pelemahan tersebut tercermin dari turunnya pesanan baru, berkurangnya output produksi, hingga langkah perusahaan mengurangi tenaga kerja dan pembelian bahan baku. "Pola seperti ini menunjukkan pelemahan permintaan yang tidak lagi bersifat sementara," katanya.

Meski demikian, Yusuf belum melihat alasan untuk terlalu pesimistis. Ia menilai aktivitas manufaktur masih berpeluang membaik pada semester II seiring meredanya tekanan harga dan membaiknya permintaan domestik. Di sisi lain, biaya energi dan logistik yang mulai lebih stabil turut meningkatkan optimisme pelaku usaha.

"Jadi saya melihat prospeknya masih positif, tetapi pemulihannya bertahap dan tetap rentan terhadap guncangan," ujarnya.

Yusuf menilai terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan kinerja manufaktur hingga akhir tahun. Pertama, biaya produksi yang masih tinggi akibat kenaikan harga bahan baku impor dan pelemahan nilai tukar rupiah sehingga menekan margin industri.

Kedua, daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama sektor manufaktur sehingga perlambatan konsumsi akan langsung memengaruhi aktivitas produksi.

Ketiga, iklim investasi. Yusuf menilai kepastian regulasi, deregulasi yang konsisten, dan kepastian hukum menjadi prasyarat untuk menarik investasi baru yang dibutuhkan sektor manufaktur. Sementara itu, tren penurunan harga energi dapat menjadi faktor penopang apabila berlanjut karena berpotensi menekan biaya produksi.

Dari sisi eksternal, Yusuf melihat peluang ekspor manufaktur masih terbuka meski ruang pertumbuhannya terbatas. Menurutnya, perlambatan ekspor yang mulai terlihat sejak awal tahun dipengaruhi berbagai tantangan global.

Baca Juga: Upaya Mendorong Pertumbuhan Bisnis F&B

"Ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat masih membayangi, sementara pelemahan harga komoditas dan belum pulihnya permintaan industri di China turut membatasi ruang ekspansi. Selain itu, Indonesia juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dari negara seperti Vietnam dan Meksiko di pasar Amerika Serikat," jelasnya.

Meski demikian, ia tidak memperkirakan ekspor manufaktur akan mengalami penurunan tajam. Permintaan dari China terhadap sejumlah produk hilirisasi, terutama nikel, dinilai masih cukup kuat untuk menopang kinerja ekspor ketika pasar lain melemah.

"Proyeksi yang paling realistis menurut saya adalah pertumbuhan ekspor pada semester kedua berada di kisaran nol hingga dua persen, dengan risiko yang masih cenderung mengarah ke bawah apabila ketidakpastian perdagangan global belum mereda," pungkas Yusuf. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News