Core: Seharusnya pemerintah andalkan pembiayaan dalam negeri tangani corona



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sudah memberi segudang stimulus untuk penanggulangan corona atau Covid-19. Yakni dengan menambah anggaran Rp 405 triliun yang setara 2,5%  dari produk domestik bruto (PDB). Namun ditengah pandemi corona seacara global membuat ekonomi Indonesia bisa tertekan. Ini terlihat dari Purchasing Manager Index (PMI) yang sudah turun sejak tahun lalu, hingga penerimaan pajak yang diprediksi bakal tidak seoptimal tahun lalu.

Sebetulnya pemerintah sudah memprediksi kondisi tersebut dengan memperlebar defisit anggaran pada tahun ini sekitar Rp 852 triliun yang setara 5,07% dari PDB.

Untuk itu Core Indonesia (Center of Reform on Economics) berharap pemerintah memberi perhatian penuh terhadap risiko yang bakal timbul saat menjalani stimulus penanggulangan corona tersebut. Terutama terkait rencana pelebaran defisit dan pembiayaannya hingga tahun 2020. Mulai dari risiko kepemilikan asing yang makin besar di surat utang negara (SUN) yang berpotensi pelarian modal seperti yang terjadi belum lama ini. Lantas risiko pelemahan rupiah, kesulitan mencari pembiayaan di dalam negeri dan risiko peningkatan utang swasta.


Baca Juga: Core Indonesia: Ada empat risiko pelebaran defisit APBN dan pembiayaannya

Dengan risiko tersebut, tim ekonomi Core Indonesia dalam rilis tertulis yang diterima Kontan.co.id Kamis (9/4) memberi rekomendasi kepada pemerintah.

Pertama, pemerintah harusnya mendahulukan penerbitan surat utang atau SUN domestik berdenominasi rupiah dengan mengutamakan skema pembelian oleh Bank Indonesia. Sentimen pasar keuangan global saat ini masih sangat negatif akibat ketidakpastian yang dipicu oleh pandemi covid-19, yang berarti minat pembeli sangat rendah. 

Baca Juga: CORE: Penerbitan obligasi merupakan pilihan utama yang dimiliki pemerintah

Penerbitan SUN Global di tengah kondisi ini akan memaksa pemerintah meningkatkan insentif berupa bunga kupon yang lebih tinggi dan atau tenor yang sangat panjang. Itu terbukti dengan diterbitkannya SUN global bertenor 50 tahun baru-baru ini. Padahal, penerbitan SUN domestik dengan pola pembelian oleh BI memungkinkan pemerintah untuk menetapkan suku bunga atau kupon SUN yang lebih rendah dengan tenor yang wajar. 

Kedua, pemerintah seharusnya tidak perlu terburu-buru menambah pasokan dollar meski kondisi rupiah saat tertekan efek ketidakpastian pasar global. Posisi cadangan devisa saat ini relatif masih cukup besar untuk membiayai intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilisasi nilai tukar. 

Selain itu Bank Indonesia juga memiliki second line of defense berupa fasilitas pinjaman IMF, perjanjian kerjasama swap arrangements dengan beberapa bank sentral, serta yang terakhir fasilitas Repo Line dari The Fed.  

Ketiga, seharusnya penerbitan SUN Global dapat dilakukan ketika wabah Covid-19 sudah mereda dan sentimen pasar mulai pulih.  “Di tengah kebijakan moneter global yang cenderung menurunkan suku bunga maka penerbitan SUN Global berpotensi mendapatkan permintaan yang tinggi pada bunga kupon yang lebih baik, dengan tenor yang wajar,” tulis Core Indonesia yang dipimpin oleh Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah Redjalam dan ekonom Core Yusuf Rendy Manilet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Markus Sumartomjon