CORE: Terlalu Dini untuk Mengaitkan Kenaikan Laba BUMN dengan Peran Danantara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang berada dalam ekosistem Danantara Indonesia mencatatkan perbaikan kinerja sepanjang 2025. Beberapa perusahaan bahkan berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba, seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Kimia Farma Tbk, dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Namun, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai masih terlalu dini menyimpulkan bahwa perbaikan tersebut merupakan hasil dari pengelolaan Danantara. Menurutnya, terdapat banyak faktor lain yang lebih dominan memengaruhi kinerja perusahaan pelat merah.

"Saya kira perlu dipisahkan dua hal yang sering dicampur dalam diskusi publik, yaitu kinerja keuangan dan kualitas tata kelola. Keduanya tidak selalu bergerak searah," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (3/7).


Baca Juga: Potongan Komisi Ojol 8% Berlaku, Harga untuk Pelanggan Stabil, Ini Kata DPR

Ia menjelaskan, kenaikan laba sejumlah BUMN memang merupakan fakta yang tercermin dalam laporan keuangan. Namun, hal tersebut belum dapat dijadikan indikator bahwa tata kelola perusahaan juga mengalami perbaikan.

Yusuf mencontohkan, di tengah publikasi peningkatan laba BUMN, Transparency International Indonesia mencatat hingga 30 September 2025 terdapat 33 wakil menteri yang merangkap sebagai komisaris BUMN. Praktik tersebut masih berlangsung meski Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan Putusan Nomor 128/PUU-XXIII/2025.

"Artinya, paradoks yang muncul bukan sekadar persepsi publik, tetapi memiliki dasar empiris," katanya.

Menurut Yusuf, laba perusahaan dalam jangka pendek umumnya lebih dipengaruhi oleh harga komoditas, struktur biaya, maupun kebijakan pemerintah. Sementara itu, kualitas tata kelola baru akan terlihat ketika perusahaan menghadapi tekanan bisnis dan membutuhkan fungsi pengawasan yang efektif dari dewan komisaris.

"Karena itu, kinerja keuangan yang membaik belum otomatis menunjukkan tata kelola yang lebih baik," ujarnya.

Ia juga menyoroti capaian PT Pertamina (Persero) yang dalam paparan Danantara disebut membukukan kenaikan laba sekitar 80% menjadi Rp24,9 triliun pada periode April 2025 hingga April 2026.

Menurut Yusuf, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena menggunakan basis perbandingan yang berbeda. Jika menggunakan laporan keuangan auditan sepanjang tahun buku 2025, pendapatan Pertamina justru turun sekitar 5,9%, sedangkan laba bersih meningkat sekitar 6,8% menjadi Rp55,2 triliun.

"Perbedaan ini menunjukkan bahwa angka 80% sangat dipengaruhi oleh rendahnya basis pembanding pada awal periode, bukan karena terjadi lonjakan fundamental dalam bisnis perusahaan," jelasnya.

Yusuf menilai peningkatan laba Pertamina lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding perubahan struktur pengelolaan perusahaan.

Ia menjelaskan, penurunan harga minyak mentah membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih rendah sehingga margin pengolahan meningkat. Selain itu, program efisiensi biaya turut menopang profitabilitas, meski kontribusinya dinilai tidak sebesar faktor eksternal tersebut.

Di sisi lain, percepatan pembayaran kompensasi bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah lebih banyak memperbaiki arus kas perusahaan dibanding menciptakan tambahan laba secara langsung.

Perbandingan dengan PT PLN (Persero), menurut Yusuf, justru menunjukkan bahwa kondisi industri dan karakteristik bisnis masing-masing perusahaan masih menjadi faktor utama yang menentukan kinerja.

Pada periode yang sama, PLN mengalami penurunan laba bersih sekitar 67% meski pendapatannya meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kerugian selisih kurs serta meningkatnya beban keuangan akibat eksposur utang dalam valuta asing.

"Pertamina dan PLN sama-sama berada di bawah Danantara, tetapi hasilnya sangat berbeda karena struktur bisnis dan risiko yang dihadapi juga berbeda. Ini menunjukkan bahwa kondisi makro dan karakter industri masih jauh lebih menentukan daripada perubahan struktur pengelolaan," katanya.

Yusuf menambahkan, laporan keuangan konsolidasian Danantara hingga kini juga masih dalam proses audit sehingga belum dapat digunakan untuk mengukur nilai tambah yang dihasilkan lembaga tersebut terhadap keseluruhan portofolio BUMN.

Menurutnya, keberhasilan restrukturisasi di beberapa perusahaan seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma memang patut diapresiasi. Namun, contoh tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa transformasi BUMN di bawah Danantara telah berhasil secara menyeluruh.

"Tanpa laporan konsolidasi, kita belum bisa mengukur secara objektif apakah Danantara benar-benar menciptakan nilai tambah atau hanya menyajikan kinerja masing-masing BUMN yang memang sedang diuntungkan oleh kondisi pasar," tutup Yusuf.

Baca Juga: Restitusi Pajak Melonjak di 2026, Pengamat Ini Soroti Dugaan Ijon Pajak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News