Covid-19 Masih Mengamuk, China Temukan Kasus Flu Burung H3N8 Pertama pada Manusia



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Di tengah lonjakan kasus harian Covid-19, Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan kasus flu burung H3N8 pertama pada manusia. Namun, pemerintah mengklaim risiko penyebaran antar manusia cukup rendah, mengutip Reuters pada Rabu (27/4).

Kasus ini bermula, saat seorang anak laki-laki berusia empat tahun dari provinsi Henan tengah ditemukan terinfeksi varian tersebut. Ia telah mengalami demam dan gejala lainnya pada 5 April. 

“Keluarga anak laki-laki itu memelihara ayam di rumah dan tinggal di daerah yang dihuni bebek liar, kata NHC dalam sebuah pernyataan. Dia terinfeksi langsung oleh burung dan strain itu tidak ditemukan memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia secara efektif," kata komisi itu.


Regulator juga telah melakukan tes dari kontak dekat manusia dengan anak tersebut dan hasilnya tidak ditemukan kelainan yang mencurigakan. Seiring dengan itu, NHC mengatakan kasus bocah itu sebagai transmisi lintas spesies satu kali. 

Baca Juga: China Mendeteksi Kasus Pertama Flu Burung H3N8 pada Manusia

Oleh sebab itu, NHC mengatakan penilaian awal menentukan varian tersebut belum memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia secara efektif. Sehingga, risiko epidemi skala besar pun dinilai masih cukup rendah.  

Memang, sudah banyak jenis flu burung yang berbeda hadir di China dan beberapa menginfeksi orang secara sporadis. Biasanya mereka yang tertular merupakan pekerja yang berkaitan erat dengan unggas.

NHC memperingatkan masyarakat untuk tetap menjauh dari unggas yang mati atau sakit. Serta mendorong warga agar segera mencari pengobatan bila mengalami gejala demam atau pernapasan.

Flu burung terjadi terutama pada unggas liar. Namun, kasus penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Namun, evolusi virus yang meningkat seiring pertumbuhan populasi unggas, menjadi perhatian utama, karena berpotensi menyebar dengan mudah antar manusia hingga menyebabkan pandemi.  

Tahun lalu China melaporkan kasus pertama H10N3 pada manusia. Varian itu menginfeksi seorang pria berusia 41 tahun. Pria itu sebelumnya dirawat di rumah sakit dengan gejala demam.

China memiliki populasi besar baik burung ternak maupun burung liar dari banyak spesies, menciptakan lingkungan yang ideal bagi virus unggas untuk bercampur dan bermutasi.

Baca Juga: Kenali gejala, penyebab, dan komplikasi Pneumonia yang diderita Ameer Azzikra

Jenis flu burung H5N1 dan H7N9, masing-masing terdeteksi pada tahun 1997 dan 2013, bertanggung jawab atas sebagian besar kasus penyakit manusia akibat flu burung, menurut Pusat Pengendalian Penyakit AS.

“Infeksi manusia dari zoonosis, atau influenza yang ditularkan melalui hewan, terutama diperoleh melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi, tetapi tidak menghasilkan transmisi yang efisien dari virus ini di antara manusia", menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

H3N8 diketahui telah beredar sejak 2002 setelah pertama kali muncul menyerang unggas air Amerika Utara. Lalu menginfeksi kuda, anjing dan anjing laut, tetapi sebelumnya belum pernah terdeteksi pada manusia.

Pada 2012, H3N8 disalahkan atas kematian lebih dari 160 anjing laut di lepas pantai timur laut Amerika Serikat setelah menyebabkan pneumonia mematikan pada hewan.