CPI AS Melandai, Risiko Suku Bunga Tinggi Masih Membayangi Harga Emas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya mereda ke level yang dapat menghilangkan risiko kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini membuat arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian pasar, termasuk bagi pergerakan harga emas.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (13/8/2026) pukul 15.02 WIB, harga emas berada di level US$ 4.370 per ons troi.

Sementara itu, data Consumer Price Index (CPI) AS Juli 2026 menunjukkan inflasi tumbuh 3,4% secara tahunan (yoy). Secara bulanan, inflasi hanya naik 0,1% (mom), sementara harga energi turun 1,5% secara bulanan.


Baca Juga: Dapat Restu RUPS, Berlina (BRNA) Bakal Eksekusi Rights Issue Rp 372,6 Miliar

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menilai data tersebut sedikit mengurangi urgensi The Fed untuk langsung menaikkan suku bunga. Namun, inflasi yang masih berada di atas target 2% membuat risiko kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang.

"Angka ini sedikit mengurangi urgensi The Fed untuk langsung menaikkan suku bunga, tetapi belum menutup kemungkinan tersebut karena inflasi masih jauh di atas target 2%," ujar Brahmantya kepada Kontan.

Menurut Brahmantya, perhatian pasar selanjutnya akan bergeser ke data pasar tenaga kerja, harga energi, dan ekspektasi inflasi. Data-data tersebut akan menjadi pertimbangan penting dalam melihat arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Bagi harga emas, suku bunga AS menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan. Jika The Fed kembali bersikap hawkish akibat tekanan inflasi, penguatan dolar AS dan yield Treasury berpotensi menekan harga emas.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi terus mereda dan mengurangi kebutuhan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi, kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.

Baca Juga: GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Simak Penjelasan Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News