CPIN menggenjot kapasitas produksi



JAKARTA. PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN) siap mengejar pertumbuhan kinerja pada tahun depan. CPIN menargetkan bisa meningkatkan kapasitas produksi 10% di semua lini. Saat ini CPIN memiliki kapasitas produksi pakan ternak 5 juta ton per tahun, pengolahan makanan 150.000 ton per tahun dan day old chicken (DOC) 18 juta ekor sepekan.

Ini artinya tahun depan, kapasitas produksi pakan ternak menjadi 5,5 juta ton, pengolahan makanan 165.000 ton dan DOC bertambah 1,8 juta ekor per minggu. Strategi ini untuk meningkatkan pangsa pasar di setiap segmen usaha. Saat ini CPIN meraih pangsa pasar 36% di pakan ternak, 35% DOC, dan 66% ayam olahan.

CPIN telah menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 2 triliun-Rp 2,5 triliun. Anggaran tersebut lebih kecil dibanding tahun ini Rp 3 triliun. Ini karena tahun ini CPIN mengakuisisi peternakan milik PT Sierad Produse Tbk (SIPD). Nilai akuisisinya Rp 430 miliar.


"Tahun depan, kami belum ada rencana ekspansi anorganik seperti akuisisi," ujar Direktur CPIN, Ong Mei Siang, Kamis (20/11). Hingga September 2014, CPIN telah menggunakan 77% capex setara Rp 2,3 triliun. Selain untuk akuisisi, CPIN juga menggunakan capex untuk membangun pabrik pakan ternak dan pabrik pengolahan makanan. Pabrik pakan ternak yang tengah dibangun Cirebon, Jawa Tengah.

CPIN menargetkan pabrik tersebut bisa beroperasi di akhir Desember 2014. "Saat ini sudah tahap percobaan," lanjut Ong. CPIN juga berencana membangun pabrik feed mill di semarang. Ong belum bersedia merinci lokasi dan dana yang dibutuhkan. "Lokasi baru pastinya, karena lahan pabrik eksisting di Semarang sudah penuh," ujar Ong.

CPIN juga telah memiliki fasilitas pinjaman bank US$ 400 juta dari sindikasi 15 bank. Pinjaman ini terdiri dari US$ 200 juta dan Rp 2,4 triliun serta meliputi dua tahap. Pertama, fasilitas pinjaman berjangka lima tahun sebesar US$ 75 juta dan Rp 900 miliar. Kedua, fasilitas kredit bergulir 5 tahun sebesar US$ 125 juta dan Rp 1,5 triliun.

Pasca transaksi, perusahaan ini yakin tetap memiliki struktur permodalan yang sangat baik serta rasio keuangan yang kuat. "Level rasio utang terhadap ekuitas kami masih sekitar 0,7 kali," tutur Ong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie