CPO merosot ke level terendah enam bulan



JAKARTA. Harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) jatuh ke level terendah dalam enam bulan. Beberapa faktor negatif kini menekan pergerakan harga.

Mengutip Bloomberg, Selasa (21/6) pukul 17.00 WIB, harga CPO kontrak pengiriman September 2016 di Malaysia Derivative Exchange tergerus 1% ke level RM 2.374 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Angka tersebut sekaligus level terendah sejak akhir Desember 2015.

Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures mangatakan, pergerakan harga komoditas memang sedang tertekan lantaran pelaku pasar meninggalkan aset beresiko menjelang referendum Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tanggal 23 Juni mendatang.


Sementara pelemahan harga CPO disebabkan oleh beberapa faktor lainnya. Pertama, pernyataan pemerintah Malaysia yang akan menunda mandat biodiesel B10 hingga bulan Juli. Kementerian Industri perkebunan dan komoditas menyatakan mandat biodiesel akan ditunda sebulan dari rencana awal.

Program B10 Malaysia bertujuan untuk meningkatkan minimal campuran biodiesel sebesar 10% untuk sektor transportasi, sehingga dapat meningkatkan permintaan CPO untuk pencampuran biodiesel dan mendorong permintaan domestik. Malaysia juga berencana menaikkan campuran biodiesel di sektor industri sebesar 7%.

Kedua, penurunan harga CPO juga seiring dengan menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia. Mengutip Bloomberg, Selasa (21/6) pukul 15.51 WIB, pasangan USD/MYR tergerus 0,67% ke level 4,0352 dibanding sehari sebelumnya. Menguatnya mata uang ringgit membuat harga CPO lebih mahal.

Terakhir, lemahnya permintaan turut menekan pergerakan harga CPO. Berdasarkan data intertek, ekspor CPO Malaysia periode 1 - 20 Juni 2016 turun 8,7% ke angka 717.407 ton dibandingkan periode sama bulan sebelumnya.

"Memang ada pelemahan terkait risk off, perlambatan permintaan, penguatan ringgit dan tertundanya kebijakan pemerintah," papar Wahyu. Padahal, minyak sawit sempat menguat di akhir pekan lalu setelah turun dalam sembilan hari beruntun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie