JAKARTA. Minyak sawit mentah melandai. Peningkatan pasokan dari negara produsen menekan harga crude palm oil (CPO). Data Malaysian Palm Oil Board yang dilansir 10 September 2012 menunjukkan, persediaan CPO meningkat hingga 2,12 juta ton di bulan lalu. Itu merupakan rekor tertinggi sejak Oktober 2012. Kontrak pengiriman CPO untuk Desember 2012 di Bursa Malaysia, Kamis (20/9), senilai RM 2.829 per ton, atau melemah 1,05%. Dalam sebulan, harga CPO telah terkoreksi sebesar 5,23%.
Gnanasekar Thiagarajan, Direktur Commtrend Risk Management Service, mengatakan, investor masih berhati-hati karena persediaan meningkat. "Walau ekspor dari Malaysia meningkat," ujar dia kepada Bloomberg. Sekadar informasi, menurut data Intertek, ekspor CPO dari Malaysia dalam 20 hari pertama di September 2012 naik 14,6% menjadi 928,110 ton, dibanding periode yang sama di bulan lalu. Profit taking Selain karena persediaan yang naik, kejatuhan harga CPO merupakan imbas dari harga minyak di New York yang melorot. Harga minyak tertekan akibat stok minyak di AS yang meningkat. Kemarin, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI), di Bursa Nymex turun 0,86% daripada hari sebelumnya. Analis Senior Monex investindo Futures, Ariana Nur Akbar, berpendapat, harga CPO terkoreksi karena ada aksi ambil untung alias profit taking. Itu lantaran harga CPO sudah menguat cukup tinggi sejak menjelang Lebaran pada Agustus lalu. Pelemahan harga CPO juga dipengaruhi oleh ancaman dari negara pengimpor seperti India yang menaikkan tarif impor serta China yang membatasi pembelian CPO karena lambatnya pertumbuhan ekonomi. "Ini yang menekan harga CPO," ujar Ariana. Analis Harvest international Futures, Ibrahim, menambahkan, ketegangan antara China dan Jepang atas kepemilikan pulau, ikut menekan harga CPO. "Harga CPO, hingga 2013, diprediksi akan turun hingga US$ 800 per ton. Kini, harga CPO berkisar US$ 900 per ton," kata Ariana.