KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah melonjaknya nilai outstanding pendanaan financial technology (fintech) lending, tantangan industri tak lagi sekadar soal pertumbuhan, melainkan juga soal kualitas dan ketahanan risiko. Hingga April 2025, pendanaan fintech menembus Rp 80,9 triliun. Rasio kredit bermasalah (TWP90) yang tercatat 2,93% mendorong pentingnya evaluasi ulang terhadap praktik penilaian kelayakan pinjaman. Terutama melalui pemanfaatan credit scoring yang berbasis data, akurat dan realtime. Presiden Direktur PT Kredit Biro Indonesia Jaya (CBI), Anton K. Adiwibowo menegaskan, sistem credit scoring tidak lagi bisa bersifat statis dan hanya berorientasi pada riwayat kredit konvensional.
Credit Scoring Jangan Cuma Lihat Rekam Jejak, Juga Perubahan Perilaku Digital Nasabah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah melonjaknya nilai outstanding pendanaan financial technology (fintech) lending, tantangan industri tak lagi sekadar soal pertumbuhan, melainkan juga soal kualitas dan ketahanan risiko. Hingga April 2025, pendanaan fintech menembus Rp 80,9 triliun. Rasio kredit bermasalah (TWP90) yang tercatat 2,93% mendorong pentingnya evaluasi ulang terhadap praktik penilaian kelayakan pinjaman. Terutama melalui pemanfaatan credit scoring yang berbasis data, akurat dan realtime. Presiden Direktur PT Kredit Biro Indonesia Jaya (CBI), Anton K. Adiwibowo menegaskan, sistem credit scoring tidak lagi bisa bersifat statis dan hanya berorientasi pada riwayat kredit konvensional.
TAG: