KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi tutup sendiri atau
crossing saham turut meramaikan bursa saham belakangan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang beberapa kali memperbarui rekor ditengarai menjadi pemicunya. KONTAN mencatat, setidaknya ada
crossing saham senilai total Rp 9,86 triliun sepanjang kuartal III-2017. Terbaru,
crossing saham Bayan Resources (BYAN) senilai Rp 1,15 triliun. Enel Investment Holding BV menjadi pihak yang menjual 333,33 juta saham BYAN di harga Rp 3.463 per saham. Sementara, Low Tuck Kwong, yang tak lain pemilik BYAN, menjadi pihak pembeli.
Awal bulan ini juga terjadi
crossing saham Summarecon Agung (SMRA). Nilainya mencapai Rp 1,38 triliun.
Crossing terjadi atas 6,68% dari seluruh total saham SMRA, yakni 14,44 miliar saham. Sebelumnya,
crossing sempat terjadi di sejumlah saham, seperti Nusantara Infrastructure (META), Lippo Karawaci (LPKR) dan emiten lainnya. Analis OSO Sekuritas Riska Afriani menilai, pemicu ramainya
crossing saham adalah
capital gain yang diincar dari pemegang saham tertentu. "Seperti diketahui IHSG beberapa kali mencetak rekor sepanjang tahun ini," ujar dia, Minggu (8/10). Sehingga investor dengan kepemilikan saham besar memiliki alasan untuk meraup untung dari investasi yang diendapkan selama beberapa tahun itu. Contoh, hal ini terjadi pada
crossing saham LPKR. Pacific Asia Holding Ltd menjual LPKR seharga Rp 1,2 triliun melalui
crossing atas 4,88% saham. Pada 2011, Pacific Asia Holding masuk LPKR dengan harga lebih murah, yakni Rp 957 miliar. Meski demikian, ada sejumlah
crossing saham bukan pada harga premium, bahkan di harga lebih murah dibandingkan harga pertama pembeliannya. Contohnya Enel Investment. Perusahaan asal Italia ini masuk BYAN pada
initial public offering (IPO) di 2008 silam. Kala itu Enel, membeli 10% saham BYAN senilai Rp 1,93 triliun. Sementara penjualannya kemarin melalui
crossing Rp 1,15 triliun. Kendati lebih murah, setidaknya Enel sudah banyak meraup untung, salah satunya dari dividen yang dibayarkan BYAN. "Investor sudah memiliki target tertentu soal
gain, dan jual beli seperti ini biasa," kata Riska. Selain itu, untung atau belum,
crossing saham ada kaitannya dengan rencana ekspansi. Ada calon pemegang saham baru yang bersedia mendukung ekspansi emiten, sehingga terjadi perubahan kepemilikan setelah
crossing. Oleh sebab itu, kata Riska, setelah
crossing, kemungkinan ada aksi korporasi demi mendukung ekspansi.
Crossing saham tak mempengaruhi harga di pasar reguler. Tapi, investor, terutama ritel, bisa masuk memanfaatkan peluang aksi ini. "Dengan
crossing, ada ekspektasi setidaknya soal prospek kinerja," tutur Riska. Seperti
crossing BBCA beberapa waktu lalu. Ada ekspektasi kinerja alebih positif, sehingga saham BBCA menjadi makin menarik. Namun harganya saat ini sudah tinggi, sehingga Riska merekomendasikan
hold. Meski demikian, tak semua
crossing saham berjalan mulus. Hal ini terjadi pada
crossing saham META yang masih menjadi sorotan.
Budi Untung, pakar hukum bisnis yang juga dosen Universitas Pelita Harapan dan Universitas Janabadra Yogyakarta, turut mencermati proses
crossing saham META dari awal. Menurut dia, tetap perlu ada
tender offer setelah
crossing itu. Hal ini mengacu pada perubahan kepemilikan saham META. Sebelum crossing, pengendalinya Eagle Infrastructure Fund Limited (EI) sebanyak 3,4 miliar (22,3%) dan PT Hijau Makmur Sejahtera (HMS) 3,2 miliar (21%). Setelah
crossing, PT Matahari Kapital Indonesia (MKI) menguasai 6,6 miliar saham atau 43%. "Dengan membeli saham dari HMS, sifat pengendalian MKI sekarang jauh lebih kuat, ini kan perubahan pengendalian," ujar Budi. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menyoroti transaksi
crossing saham META tersebut. Tapi, manajemen META melalui klarifikasinya ke Bursa Efek Indonesia memastikan tak ada perubahan pengendali perusahaan. "Namun, klarifikasi itu saja tidak cukup, perlu dokumen legal sampai pemegang saham akhir (ultimate shareholder)," ungkap Budi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News