Cuaca Hambat Panen, Ini Solusi Pemerintah Redam Gejolak Harga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.Tekanan harga pangan masih terjadi di tengah pasokan yang relatif tersedia, dengan gangguan cuaca menjadi salah satu pemicu utama terganggunya proses panen dan distribusi komoditas di lapangan.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan curah hujan tinggi membuat sejumlah komoditas hortikultura tidak bisa dipanen tepat waktu, walaupun ketersediaan barang sebenarnya cukup.

“Barangnya ada, tetapi tidak bisa dipanen saat hujan. Itu yang membuat harga naik,” kata Ketut dalam media briefing di Auditorium Badan Komunikasi RI, Jakarta, Senin (20/4/2026).


Baca Juga: Produksi Beras Naik 13,29%, Kementan: 9 Komoditas Surplus Jadi Tantangan Penyimpanan

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan ke pasar terganggu dan memicu kenaikan harga di sejumlah daerah, terutama pada komoditas hortikultura. 

Sementara itu, di sektor peternakan, harga ayam hidup sempat turun ke kisaran Rp20.000 per kilogram, yang dinilai dapat menekan peternak jika berlangsung lama.

“Di konsumen bisa stabil, tetapi di produsen bisa turun. Ini yang harus dijaga,” ujar Ketut.

Untuk meredam gejolak harga, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah intervensi, antara lain Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, serta gerakan pangan murah di berbagai daerah.

Selain itu, pengawasan distribusi diperkuat melalui Satgas Pangan lintas kementerian dan aparat penegak hukum guna mencegah spekulasi harga, serta penguatan distribusi minyak goreng melalui BUMN dengan porsi minimal 60%.

Di sisi lain, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, menilai tekanan harga juga dipengaruhi belum optimalnya pengelolaan hasil produksi di sektor hilir.

“Produksi kita meningkat di banyak komoditas, tapi persoalannya sekarang bagaimana mengelola hasil itu,” ujarnya.

Pemerintah menegaskan penguatan sektor hilir menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan peningkatan produksi berdampak pada kesejahteraan petani dan peternak.

Baca Juga: Waspada, Akibat Pancaroba Tahun Lalu 2,5 Juta Warga Jakarta Kena ISPA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News