Cuan Surat Berharga Perbankan Tumbuh Lebih Subur, Begini Strategi Atur Likuiditas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski tawaran cuan dari penyaluran kredit masih lebih menggiurkan, nyatanya pendapatan perbankan dari penjualan surat berharga tumbuh lebih masif. 

Kita lihat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) perbankan hingga Mei 2026 hanya tumbuh 6% secara tahunan menjadi Rp 245,81 triliun. Di saat yang sama, pendapatan dari kenaikan nilai wajar dan penjualan surat berharga tumbuh lebih kencang 20% year-on-year (yoy) menjadi Rp 14,07 triliun. 

Jika melihat data Bank Indonesia (BI), kepemilikan bank di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Juni 2026 memang bertambah 17,5% yoy menjadi Rp 615,71 triliun. Namun, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan bank di Surat Berharga Negara (SBN) turun 11,12% yoy menjadi Rp 1.071 triliun hingga 1 Juli 2026. 


Baca Juga: Celios: Risiko Kredit Macet Fintech Lending Masih Tinggi hingga Akhir 2026

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan hingga Juni 2026 tumbuh 12,67% yoy menjadi Rp 9.080 triliun. 

Sejatinya, potensi cuan dari penyaluran kredit masih lebih menguntungkan bagi bank. BI mencatat Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan per Mei 2026 ada di posisi 8,62%. Dalam periode yang sama, trading economics mencatat yield SBN 10 tahun hanya sebesar 6,71% dan SRBI 1 tahun sebesar 6,91%. 

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyebut, penempatan dana pada surat berharga sejatinya merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas bank, di samping turut mendukung perekonomian nasional.

Namun, pada prinsipnya fungsi utama lembaga perbankan adalah sebagai sarana intermediasi ekonomi yang menyalurkan kredit ke masyarakat. Maka dari itu, Hera bilang pihaknya tetap menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat.

Hingga Juni 2026, BCA menyalurkan kredit secara konsolidasian sebesar Rp 1.036 triliun atau naik 8% yoy, tetapi NII bank turun tipis 0,09% yoy menjadi Rp 42,6 triliun. Sementara itu, surat berharga yang dimiliki bertambah 11,31% yoy menjadi Rp 430,16 triliun dan keuntungan dari penjualan aset keuangan melonjak 120,22% yoy menjadi Rp 1,37 triliun. 

Kendati begitu, Hera memastikan pihaknya tetap berkomitmen untuk mengelola likuiditas secara prudent. “Sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko,” ujar Hera kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). 

Baca Juga: Tumbuh 1,88%, Piutang Pembiayaan Multifinance Rp 511,26 Triliun per Juni 2026

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga bilang keputusan penempatan dana di surat berharga bakal menyesuaikan keadaan likuiditas serta pipeline kredit yang ada. Di CIMB Niaga sendiri, ia mengakui portofolio SRBI bertambah, 

Berdasarkan laporan keuangannya, surat berharga yang dimiliki CIMB Niaga naik tipis 0,73% yoy menjadi Rp 71,07 triliun per Mei 2026, meski begitu penjualan aset keuangannya justru mencatatkan rugi sebesar Rp 1305 miliar. Sementara itu, total pembiayaan bank naik 3,58% yoy menjadi Rp 227,72 triliun dan NII turun 0,83% yoy menjadi Rp 4,89 triliun. 

Lani mengaku, ekspansi kredit yang dibidik CIMB Niaga tahun ini memang tak agresif. “Kami utamakan nasabah eksisting dengan profil risiko yang rendah untuk pertumbuhan kredit,” katanya. 

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie bilang pengelolaan likuiditas sejatinya dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk penguatan struktur pendanaan, optimalisasi penempatan pada surat berharga, serta penyaluran kredit secara selektif dan prudent kepada sektor-sektor prioritas. 

“Strategi ini bertujuan untuk menjaga kecukupan likuiditas, meningkatkan efisiensi struktur neraca, mengoptimalkan biaya dana (Cost of Fund), serta mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” jelasnya. 

Di KB Bank, portofolio surat berharga secara bank only naik 14,38% yoy menjadi Rp 19,97 triliun tetapi penjualan aset keuangannya merugi sebesar Rp 11,65 miliar. Di sisi lain, kreditnya tumbuh 4,37% yoy menjadi Rp 44,96 triliun dan NII melonjak 53,22% yoy menjadi Rp 688,77 miliar. 

Kunardy memastikan pihaknya terus memperkuat pengelolaan aset dan liabilitas agar lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perubahan kebijakan regulator. Toh dengan struktur likuiditas yang semakin baik, bank memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. 

Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 12,67% hingga Juni 2026, OJK: Risiko Tetap Terjaga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News