Cukai MBDK Ditunda, Industri Minuman 2026 Dapat Napas di Tengah Lesunya Daya Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) memetakan peluang dan tantangan yang membayangi industri pada tahun ini. Para pelaku usaha menyambut penundaan pungutan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) sembari mewaspadai pelemahan daya beli masyarakat.

Ketua Umum Asrim Triyono Prijosoesilo mengapresiasi langkah pemerintah menunda penerapan cukai MBDK yang menunggu tingkat pertumbuhan ekonomi lebih optimal. Menurut Triyono, penundaan pungutan cukai MBDK mengurangi kecemasan para pelaku industri minuman terhadap prospek usaha tahun 2026.

“Pelaku usaha dapat lebih fokus untuk mencoba rebound dari kondisi kinerja tahun 2025 yang masih belum baik. Kinerja tahun 2025 sampai dengan kuartal ketiga masih parah,” kata Triyono kepada Kontan.co.id, Kamis (22/1/2026).


Baca Juga: Pengusaha Sambut Penundaan Cukai Minuman Berpemanis, Begini Kata Asrim dan Gapmmi

Asrim belum membeberkan data kinerja industri untuk periode setahun penuh 2025. Sebagai gambaran, hingga kuartal III-2025, kinerja penjualan industri minuman hanya tumbuh sebesar 1,8%. Dengan catatan bahwa pertumbuhan tersebut hanya ditopang oleh kategori Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Triyono menggambarkan bahwa secara tahunan, kinerja bisnis AMDK masih bisa tumbuh sekitar 2,4% hingga Oktober 2025. Sedangkan volume penjualan kategori produk minuman siap saji lainnya mengalami penurunan.

Secara operasional, tingkat utilisasi produksi industri minuman masih di bawah 50%. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat utilisasi subsektor industri minuman berada di level 49,85% pada periode Januari–November 2025.

Meski begitu, realisasi ekspansi dan investasi industri minuman menjadi salah satu yang paling mentereng di sektor manufaktur. Kemenperin mencatat ada 784 perusahaan di industri minuman yang memulai produksi untuk pertama kali sepanjang periode Januari–September 2025.

Secara keseluruhan, nilai investasi dari ekspansi pabrik 784 perusahaan minuman tersebut mencapai Rp 207 triliun. Penyerapan tenaga kerja di industri minuman dari pengoperasian pabrik-pabrik tersebut mencapai 15.943 orang.

Baca Juga: Regulasi Cukai Diperketat, Hatten Bali (WINE) Bidik Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026

Meski mentereng pada tahun lalu, Triyono memandang secara konservatif outlook bisnis dan investasi industri minuman pada tahun ini. Menurut Triyono, pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan terbesar bagi industri barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG), termasuk untuk produk minuman.

“Terkait dengan rencana dan investasi, kami memandang prospek 2026 dalam kerangka konservatif. Daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, masih belum pulih, sehingga dalam konteks minuman siap saji dalam kemasan yang merupakan secondary goods, kami belum melihat akan ada dorongan peningkatan konsumsi yang signifikan,” terang Triyono.

Triyono memprediksi pelaku industri akan lebih memilih fokus mengungkit utilisasi atau meningkatkan penggunaan kapasitas produksi yang sudah terpasang. Asrim pun berharap pemerintah segera mengambil langkah yang dapat mendukung daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang berada dalam posisi terjepit.

Selain itu, tantangan lainnya adalah ketersediaan dan kelancaran bahan baku produksi. Dalam hal ini, Triyono menyoroti penetapan kuota impor gula rafinasi untuk tahun 2026 yang dinilai cukup terlambat. Padahal, waktu penetapan kuota hingga impor terealisasi memakan waktu yang tidak pendek.

“Alhamdulillah pemerintah akhirnya menetapkan kuota impor gula rafinasi untuk tahun 2026. Namun penetapan ini cukup terlambat, sehingga masih ada pelaku usaha yang mengejar ketersediaan bahan baku,” kata Triyono.

Baca Juga: Pro-Kontra Penundaan Cukai Minuman Berpemanis, Ini Kata Pengusaha & Lembaga Konsumen

Secara momentum, Triyono berharap periode Ramadan–Idul Fitri bisa mendongkrak kinerja industri minuman. Secara historis, Ramadan–Idul Fitri merupakan periode puncak penjualan produk industri minuman siap saji dalam kemasan.

Hanya saja, Triyono belum membeberkan proyeksi pertumbuhan pada momentum Ramadan–Idul Fitri. Sebab, ada pertimbangan kondisi daya beli masyarakat serta faktor-faktor yang dapat mendongkrak konsumsi menjelang Idul Fitri seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan insentif dari pemerintah.

“Harapan kami kinerja periode Lebaran tahun ini bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal ini akan bergantung pada beberapa faktor seperti THR dan juga dukungan insentif yang diberikan oleh pemerintah,” tutup Triyono.

Selanjutnya: Kejar Target Pajak 2026, Pengamat Khawatir Dunia Usaha Jadi Korban

Menarik Dibaca: Katalog Promo Hypermart Dua Mingguan sampai 28 Januari 2026, Aneka Telur Diskon 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News