KONTAN.CO.ID - Valuasi ChangXin Memory Technologies (CXMT) mencapai sekitar Rp1.536 triliun saat perusahaan itu melantai di Bursa Shanghai. Nilai tersebut mencerminkan besarnya ekspektasi pasar terhadap prospek bisnis produsen chip memori asal China itu, yang diuntungkan oleh meningkatnya permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Mengutip
Reuters, CXMT saat ini merupakan produsen DRAM terbesar keempat di dunia setelah Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology.
IPO senilai 57,92 miliar yuan atau sekitar Rp153,64 triliun menjadikan CXMT sebagai emiten dengan penawaran saham perdana terbesar di Asia sepanjang 2026.
Baca Juga: Bursa China Waspadai IPO Raksasa CXMT US$ 8,6 Miliar di Tengah Tekanan Pasar Produsen DRAM yang Mulai Diperhitungkan
CXMT memproduksi
Dynamic Random Access Memory (DRAM), yakni chip memori yang digunakan pada berbagai perangkat elektronik seperti
smartphone, komputer pribadi, hingga server pusat data. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan berhasil memperkuat posisinya di industri semikonduktor global. Saat ini, CXMT berada di peringkat keempat produsen DRAM terbesar di dunia, di bawah Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology. IPO CXMT menjadi penawaran saham terbesar yang pernah dilakukan perusahaan semikonduktor di China, melampaui pencapaian
Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) yang menghimpun dana US$ 7,5 miliar pada 2020.
Baca Juga: Begini Cara Bank Sentral Singapura Mengendalikan Inflasi Tanpa Mengubah Suku Bunga Permintaan AI Menjadi Pendorong Pertumbuhan
Prospek pertumbuhan CXMT tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan chip memori untuk mendukung pengembangan teknologi AI. Dalam
roadmap-nya, perusahaan menyebut lonjakan investasi AI telah mendorong siklus pertumbuhan terbaru industri DRAM. Namun, CXMT juga mengingatkan bahwa pasar dapat kembali melemah apabila belanja AI melambat atau pasokan chip meningkat terlalu cepat akibat ekspansi produksi para produsen. CXMT memperkirakan pendapatan semester pertama 2026 mencapai 110 miliar yuan hingga 120 miliar yuan, atau sekitar Rp291,83 triliun hingga Rp318,36 triliun. Angka itu meningkat lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, laba bersih diperkirakan berada di kisaran 66 miliar yuan hingga 75 miliar yuan, setara Rp175,10 triliun hingga Rp198,98 triliun. Apabila mampu mempersempit kesenjangan teknologi dengan para pesaing global, CXMT berpeluang memperkuat posisinya di industri chip memori. Dukungan permintaan AI yang terus meningkat juga dapat menjadi modal bagi perusahaan untuk memperluas pangsa pasar di tengah persaingan semikonduktor yang semakin ketat.
Baca Juga: Nvidia Gencar Ekspansi Data Center, Bakal Beli Saham Baru Naver Korea Selatan