KONTAN.CO.ID - HONG KONG/JAKARTA. Cyberport, pusat inovasi dan teknologi Hong Kong, melihat Indonesia sebagai salah satu pasar potensial untuk memperluas kolaborasi teknologi. Sektor keuangan serta pengembangan kota pintar atau
smart city menjadi dua bidang yang dinilai paling menjanjikan. KONTAN berkesempatan mewawancarai
Chairman Cyberport Hong Kong Simon Chan dalam hajatan Digital Entertainment Leadership Forum (DELF) 2026, akhir pekan lalu. Menurutnya, potensi kerja sama antara Hong Kong dan Indonesia sangat besar, terutama setelah kunjungan delegasi resmi yang dipimpin oleh sekretaris keuangan Hong Kong ke Indonesia pada awal tahun 2025. Simon menyoroti pertumbuhan pesat ekonomi serta pembangunan infrastruktur yang masif di Indonesia sebagai daya tarik utama bagi para pelaku industri
innovation and technology (I&T). Menurutnya, terdapat dua sektor utama yang menjadi prioritas kolaborasi antara Cyberport dan mitra di Indonesia, yakni sektor keuangan dan infrastruktur pembangunan kota pintar.
"Indonesia tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir dengan banyak pembangunan infrastruktur, munculnya perusahaan-perusahaan baru, serta sektor keuangan yang terus berkembang. Kami melihat ada banyak sekali peluang di sana," ujar Simon.
Baca Juga: Pasar Asia Rebound Kamis (3/9), Investor Menanti Sinyal The Fed dari Data NFP Menurut dia, peluang kolaborasi tersebut terbuka bukan hanya bagi perusahaan teknologi Hong Kong yang ingin masuk ke Indonesia, tetapi juga bagi perusahaan rintisan dan pelaku industri teknologi Indonesia yang ingin memperluas bisnis melalui Hong Kong. Potensi kerja sama tersebut semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Menurutnya, sektor keuangan menjadi salah satu bidang yang paling menarik bagi Cyberport. Perkembangan industri keuangan Indonesia dinilai menciptakan ruang bagi perusahaan teknologi dari Hong Kong untuk menawarkan solusi digital dan membangun kemitraan dengan pelaku usaha lokal. Selain
fintech, Cyberport juga melihat peluang besar pada pengembangan
smart city dan
smart living. Menurut Simon, Indonesia memiliki banyak proyek pembangunan dan pengembangan kota yang membutuhkan dukungan teknologi. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital dapat menjadi bagian penting untuk membuat infrastruktur serta layanan perkotaan menjadi lebih efisien. Simon menambahkan, sejumlah perusahaan yang berada di ekosistem Cyberport juga telah mulai membangun hubungan bisnis dengan perusahaan di Indonesia. Karena itu, Cyberport ingin mendorong lebih banyak kolaborasi antara kedua ekosistem teknologi tersebut. Bentuknya dapat berupa kemitraan bisnis, ekspansi perusahaan maupun kerja sama antara
startup. "Melalui kolaborasi, kami ingin membantu perusahaan dari kedua pihak membuka peluang bisnis di masing-masing pasar," kata Simon. Dorong kolaborasi lintas ekosistem Simon mengatakan, Cyberport ingin berperan sebagai penghubung antara perusahaan teknologi,
startup, investor dan ekosistem bisnis dari berbagai negara. Menurut dia, pemilihan mitra dan pasar tidak semata-mata didasarkan pada ukuran ekonomi. Cyberport juga melihat potensi pertumbuhan, visi pembangunan teknologi, talenta, budaya serta kesamaan arah pengembangan industri. "Yang paling penting adalah potensi. Kami mencari negara, perusahaan atau industri yang memiliki visi untuk berkembang dan melakukan lebih banyak hal," ujarnya.
Baca Juga: Nikkei Jepang Bergerak Fluktuatif Kamis (3/9), Saham Semikonduktor Tertekan Broadcom Hong Kong sendiri tengah memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi dan teknologi internasional. Cyberport menjadi salah satu bagian dari ekosistem tersebut dengan membangun jaringan startup, perusahaan teknologi, talenta dan investor. Simon mengatakan penguatan ekosistem tersebut bertumpu pada beberapa elemen utama, yakni perusahaan teknologi, talenta dan pendanaan. Akses pendanaan juga menjadi bagian penting. Sebagai pusat keuangan internasional, Hong Kong memiliki infrastruktur finansial yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perusahaan teknologi dan startup. Selain membukakan jalan bagi startup asal Hong Kong untuk masuk ke pasar Indonesia, Chan juga menegaskan bahwa pintu Cyberport terbuka lebar bagi perusahaan rintisan dan talenta digital asal Indonesia yang ingin mengekspansi bisnisnya ke kancah global. Hong Kong dinilai sebagai pintu gerbang (
gateway) terbaik untuk menembus pasar Tiongkok Daratan maupun kawasan Asia Pasifik. AI bukan hanya teknologi, tapi penggerak ekonomi Di tengah perkembangan AI, Cyberport juga mendorong pemanfaatan teknologi tersebut sebagai penggerak berbagai sektor ekonomi. Simon menyebut pendekatan yang kini didorong Cyberport sebagai AI enabler hub, yakni bagaimana AI dapat digunakan untuk membantu perkembangan berbagai sektor ekonomi, bukan hanya industri teknologi. Menurut Simon, adopsi teknologi oleh sektor ekonomi menjadi sama pentingnya dengan pengembangan teknologi itu sendiri. Karena itu, Cyberport tidak hanya fokus pada perusahaan yang mengembangkan AI, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut digunakan oleh industri lain.
Baca Juga: KOSPI Rebound 1,38% Kamis (3/9), Saham Chip Korea Selatan Ikuti Penguatan Wall Street Pendekatan tersebut juga terlihat dalam penyelenggaraan DELF forum yang telah digelar Cyberport selama lebih dari dua dekade. Simon mengatakan, digital entertainment menjadi salah satu bidang strategis karena perkembangannya dapat mencerminkan evolusi teknologi. Jika sebelumnya fokus industri lebih banyak berada pada teknologi digital entertainment, kini AI menjadi bagian penting dalam pengembangan konten dan pengalaman digital. "Digital entertainment bukan hanya soal konten. Perkembangan berbagai teknologi juga bisa tercermin dalam solusi digital entertainment," katanya. Menurut Simon, AI membuka peluang baru dalam produksi film, penyiaran dan berbagai bentuk hiburan digital. Pengembangan teknologi tersebut juga dapat menciptakan peluang bisnis dan lapangan kerja baru di sepanjang rantai industrinya.