Dagang Tembus US$ 200 Miliar, Putin Ungkap Perkuat Dedolarisasi Rusia-China?



KONTAN.CO.ID - KREMLIN. Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan pernyataan penting menjelang pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan akan berlangsung pada hari ini.

Putin menyebut hubungan diplomatik dan ekonomi antara Rusia dan China kini melesat ke level tertinggi sepanjang sejarah. Dalam rangka memenuhi undangan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin bersiap menggelar kunjungan tingkat tinggi ke Beijing demi memperluas kemitraan strategis tanpa batas kedua negara.

Bagi Putin, kunjungan ini menandai momentum penting bagi kedua raksasa geopolitik. Apalagi, tepat 25 tahun lalu, kedua negara menyepakati Perjanjian Hubungan Bertetangga Baik dan Kerja Sama Bersahabat (Treaty of Good-Neighbourliness and Friendly Cooperation). 


Baca Juga: Pesan Xi Jinping ke Putin-Trump: Ini Kunci Stabilitas Dunia di 2026

Perjanjian inilah yang meletakkan fondasi kokoh bagi kemitraan komprehensif yang saling menguntungkan, berdiri di atas pilar saling percaya, penghormatan kedaulatan, serta persatuan negara.

Putin menegaskan Rusia melihat ke depan dengan lebih optimistis, Rusia dan China aktif memperluas kontak di bidang politik, ekonomi, pertahanan, hingga pertukaran humaniora. Agenda-agenda krusial inilah yang akan membentuk arah diskusi utama dalam pertemuan tingkat tinggi di Beijing nanti.

Putin Menyusul Trump Ke China! Rusia dan China Makin Solid Lawan Dominasi Barat?
© 2026 Konten oleh Kontan
Di sektor riil, roda kerja sama ekonomi kedua negara kian bertenaga. Nilai perdagangan bilateral Rusia-China tercatat telah lama melampaui angka US$ 200 miliar. 

Menariknya, proses dedolarisasi berjalan agresif; sistem pembayaran dan penyelesaian perdagangan timbal balik kini hampir seluruhnya dialihkan menggunakan mata uang lokal, tanpa dolar Amerika Serikat. "Penyelesaian transaksi timbal balik kini hampir seluruhnya dilakukan dalam rubel dan yuan," tandas Putin seperti dikutip dari laman resmi kepresidenan Rusia.

Tak hanya ekonomi, sektor sosial dan budaya ikut diperkuat. Menyusul suksesnya program Tahun Budaya, proyek "Tahun Kerja Sama Pendidikan Rusia-China" resmi diluncurkan pada Januari lalu, menandai edisi ke-10 dari proyek bilateral bidang humaniora tersebut. 

Baca Juga: Putin dan Xi Bersiap Bertemu, Bahas Dampak Kunjungan Trump ke China

Rusia sendiri menaruh penghormatan tinggi atas sejarah, budaya, dan pencapaian sains China.

Guna mendongkrak arus bisnis dan pariwisata, kedua negara menyambut baik penerapan rezim bebas visa timbal balik. Langkah ini diyakini akan membuka peluang komunikasi baru serta mempererat kontak personal antar-warga negara Rusia dan China.

Di panggung global, Putin menegaskan bahwa kemitraan strategis Moskow dan Beijing bertindak sebagai poros stabilitas dunia tanpa bermaksud membangun aliansi untuk melawan pihak mana pun. 

Kedua negara berkomitmen menyelaraskan langkah di bawah payung PBB, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), hingga BRICS demi menegakkan hukum internasional secara utuh dan menjaga keamanan global.

Tonton: FBI Bongkar “Kantor Polisi Rahasia” China di New York! Operasi Mata-mata Beijing Terungkap?